IHSG Diprediksi Semakin Bullish

Selain itu, terkait tax amnes­ty, Taye berpendapat bahwa ada perbedaan antara program tax am­nesty yang saat ini tengah digencar­kan dengan yang program-program terdahulu. Perbedaannya terletak pada Automatic Exchange of Infor­mation (AEOI) yang akan diimple­mentasikan oleh beberapa negara termasuk Indonesia dan Singapura.

Menurutnya, program tax am­nesty yang saat ini digencarkan me­miliki strategi sosialisasi yang baik.

“Cara kerja dari AEOI ini me­mungkinkan keterbukaan data fi­nancial account yang dipegang oleh bank di suatu negara untuk otoritas bank di negara lainnya,” ujar Taye.

BACA JUGA :  Harga Honda CRF250 Series Naik, CRF250 Rally Kini Hampir Tembus Rp 100 Juta

Implikasinya adalah suku yang lebih rendah dan revenue yang se­makin bertambah. Taye mencatat, sebelum adanya revisi, tax rev­enue pada 2016 sebesar Rp 1.539 triliun. Angka ini naik 165 triliun selepas adanya revisi.

Selain itu, Taye mengatakan bah­wa investor asing cenderung banyak yang membeli saham berkapitalisasi besar. Kecenderungan itu terlihat setelah Brexit di mana pembelian asing mencapai lebih dari Rp 30 triliun atau 42% pada Juli 2016. In­vestor asing cenderung membeli saham-saham perbankan dan kon­sumer.

BACA JUGA :  Vertu AlphaFold Resmi Meluncur, Ponsel Lipat Premium dengan AI Asisten Pribadi Seharga Rp 110 Juta

Ia menekankan, kunci berin­vestasi yang tepat untuk saat ini adalah memilih saham konsum­er, infrastruktur, aneka industri, dan basic industry. Pasalnya, sek­tor-sektor tersebut didukung oleh rendahnya inflasi.

Untuk saham sektor konsumer, Taye merekomendasikan saham UNVR, KLBF, dan ULTJ. Sedang­kan saham TLKM, JSMR, dan BIRD untuk sektor infrastruktur. ASII, AUTO, dan GJTL untuk sektor aneka industri. SMGR, JPFA, dan TOTO untuk sektor industri dasar.(Yuska Apitya/ktn)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================