
dr Ludhang menambahkan, di dunia virus Zika memang hanya ditemukan di dua kawasan, yaitu Asia dan Afrika. Meski sama-sama disebarluaskan dengan ‘bantuan’ nyamuk, virus Zika yang ada di kedua kawasan tersebut sama sekali berbeda.
“Virusnya sama, tetapi susunan molekuler genetiknya berbeda. Kemungkinan yang di Brazil itu berasal dari Afrika kemudian mengalami mutasi,” terangnya.
Meski begitu, dr Ludhang mengakui keberadaan virus Zika yang tersebar di Asia Tenggara seperti Singapura, Filipina dan Thailand juga bisa saja ikut menyebar di Indonesia. Semisal bila nyamuk lokal menggigit pasien Zika dan menyebarkannya ke nyamuk lain lewat perkawinan.
Tetapi proses ini dipastikan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Di sisi lain, kombinasi genetik virus dari hasil ‘perkawinan’ kedua nyamuk ini juga belum tentu menghasilkan virus Zika yang sama berbahayanya dengan yang di Amerika Latin.
“Kalau di Filipina atau Singapura itu kan alat diagnosisnya sudah ada, penderitanya juga aktif melapor. Ini berbeda dengan di kita,” paparnya lagi.
Di Indonesia, satu-satunya laboratorium yang bisa mendeteksi virus Zika hanya ada di ibukota. Akan tetapi Kementerian Kesehatan beralasan pemusatan lab ini sengaja dilakukan untuk memastikan tiap kasus Zika yang ditemukan di Indonesia terkonfirmasi dengan jelas.
dr Ludhang juga bersyukur sejauh ini belum ada laporan virus Zika dapat menyebabkan cacat lahir seperti mikrosefali ataupun kematian. Angka kejadiannya pun terbilang kecil, walaupun itu semata karena tingkat pelaporannya yang buruk dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang keberadaan virus ini.(Yuska Apitya)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















