foto-hl-pertaliteYuska Apitya

[email protected]

        PT Pertamina (Persero) mencatat lonjakan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) berkadar oktan 90, Pertalite, secara signifikan dalam dua bulan terakhir. Penjualan Pertalite sepanjang bulan ini tercatat sebanyak 25,2 ribu kilo liter (kl) per hari, meningkat 71,43 persen dibandingkan dengan Juli yang sebanyak 14,7 ribu kl per hari.

        Proporsi Pertalite di dalam penjualan bensin Pertamina juga meningkat, dari 15,69 persen pada Juli menjadi  mencapai 27,57 persen dari total penjualan bensin secara keseluruhan.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro mengklaim, meningkatnya penjualan Pertalite sebagai kesuksesan perseroan dalam menjawab kebutuhan BBM publik yang semakin beragam. Dia mengaku kaget dengan realita itu mengingat BBM jenis ini baru dipasarkan perseroan setahun terakhir.

“Ini memang seharusnya menjadi tugas kami, bahwa sebagai badan usaha penyalur BBM, kami perlu melakukan diversifikasi jenis BBM kepada konsumen. Kami tidak boleh menjerumuskan konsumen ke satu jenis BBM saja,” ujar Wianda, kemarin.

Menurutnya, beberapa faktor yang mendorong konsumsi Pertalite antara lain semakin tingginya kesadaran pemilik kendaraan akan spesifikasi mesin. Sesuai diskusi yang dilakukan bersama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), ia mengatakan bahwa mesin dari kendaraan yang mulai diproduksi sejak tahun 2000 ke atas memiliki rasio kompresi yang hanya cocok digunakan dengan BBM berkadar oktan 90 ke atas.

Baca Juga :  Siap-siap AS Bakal Kena Resesi di Tahun 2023 Ini

“Selain itu, kendaraan-kendaraan ini juga dikemudikan oleh generasi muda yang memang peduli dengan lingkungan. Semakin tinggi kadar oktan, maka emisi gas buangnya juga semakin kecil,” tambahnya.

Diakui Wianda, meroketnya pamor Pertalite sendiri sudah terlihat sejak akhir tahun lalu. Pada awalnya, perusahaan menargetkan 500 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang bisa menyiapkan dispenser Pertalite. Namun, kini jumlah SPBU penyedia Pertalite sudah mencapai 4.341 unit di seluruh Indonesia, atau hampir sembilan kali lipat dari target awal.

“Angka ini meningkat karena banyak pelanggan yang meminta Pertalite ke SPBU langganan mereka. Namun kadang permintaan ini muncul dari pemilik SPBU langsung. Bahkan, kini Pertalite juga sudah menjangkau Indonesia Tiur, karena permintaannya juga muncul di situ,” lanjutnya.

Lebih lanjut, konsumsi Pertalite juga diprediksi mampu menggantikan konsumsi Premium yang terus menurun. Kendati demikian, perusahaan tak berniat untuk menghapus Premium, mengingat BBM tersebut berstatus BBM penugasan pemerintah.

Menurut data Pertamina, konsumsi Premium menurun dari angka 64,6 ribu kl per hari pada bulan Juli menjadi 50,5 ribu kl per hari pada bulan September. Dengan kata lain, konsumsi Premium menurun selama 21,82 persen dalam dua bulan terakhir. “Pertamina tidak ada hak untuk menghapus BBM jenis Premium, dan kami sampai saat ini masih memiliki stok Premium selama 17 hari. Namun masa depan Premium, tentu tergantung regulasinya pemerintah nanti seperti apa,” kata Wianda.

Baca Juga :  Realme 10 Pro 5G Edisi Coca-cola Bakal Launching Bulan Ini, Berikut Spesifikasinya

Sebagai informasi, saat ini penjualan Premium berkontribusi sebesar 55,25 persen dari total penjualan bensin Pertamina sebesar 91,4 ribu kl per hari. Di akhir tahun, perusahaan memprediksi proporsi penjualan Premium akan mencapai 50 persen dari total penjualan bensin.

        Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, menyatakan tidak ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai besok. “Tidak ada kenaikan (harga BBM), untuk semua jenis,” kata Rini ditemui usai rapat APBN di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (30/9/2016).

Pernyataan Rini ini membantah pernyataan Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, yang mengungkapkan bahwa harga premium akan turun Rp 300/liter, sedangkan harga solar naik Rp 500-600/liter. “Sudah dihitung, sudah dilaporkan ke Pak Menteri. Premium turun sekitar Rp 300/liter, solar naik Rp 500-600/liter lah,” kata Wirat saat ditemui di Alger, beberapa hari lalu.

Harga bahan bakar tersebut akan mengalami perubahan pada periode 1 Oktober-31 Desember 2016.(*)