2581515971523-11_05_2010Yuska Apitya

[email protected]

Untuk menekan inflasi, Bank Indonesia (BI) mengembangkan aplikasi harga pangan dari seluruh Indonesia yang dapat dipantau oleh masyarakat.

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, Noor Yudanto dalam acara Temu Wartawan Daerah Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/10/2016) mengatakan, Bank Indonesia sudah punya namanya aplikasi harga pangan, dalam aplikasi tersebut terdapat seluruh harga pangan dari hampir semua provinsi dan kota di Indonesia.

“Di aplikasi itu terdapat semua harga seluruh komoditas pangan sekitar 21 varian. Jadi kalau beras ada yang rendah, sedang dan cakupannya ada di 80 kota, di mana setiap kota ada 3-4 pasar utama,” jelasnya.

Dia menjelaskan, pihaknya berencana untuk meluncurkan aplikasi harga pangan yang nantinya diintegrasikan dengan berbagai fasilitas agar masyarakat dapat memantau harga pangan, stok komoditas hingga para petani bisa langsung menjual produknya melalui e-commerce.

Baca Juga :  Saham Meta Merangkak Naik, Mark Zuckerberg Untung Besar Tahun Ini

“Rencana kami akhir tahun di-launcing, bahwa ini menjadi suatu alat integratif. Selain harga nanti juga ada stok beras, stok daging sapi, stok ayam, bawang merah dan cabai. Kemudian ada juga fasilitas kayak e-commerce,” ujarnya

Sementara menurut Deputi Direktur Departemen Regional BI, Budiono mengatakan, aplikasi tersebut sangat membantu dalam informasi baik harga maupun stok antar wilayah sehingga distribusi juga bisa berjalan lancar.

“Aplikasi ini sudah mulai digunakan tapi belum di-launching karena masih proses. Seperti di BI Medan mereka punya kelompok tani, mereka beli handphone yang tidak terlalu mahal yang mereka akses agar mereka tahu tentang sistem informasi harga dan mereka dapat informasi mengenai harga,” jelasnya.

Baca Juga :  SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

Sementara menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, aplikasi tersebut nantinya bisa diintegrasikan. Integrasi di sini bertujuan untuk mencegah impor pangan nasional karena masing-masing daerah akan mengetahui kondisi nyata kebutuhan dan kekurangan pangan, sehingga bisa saling membantu dan meningkatkan produksi.

“Kita bisa pantau harga-harga di pasar, nanti kita integrasikan, misalnya ada surplus beras di provinsi A dan ada defisit beras di provinsi B dan kita dapat informasinya,” jelasnya. (*)