alfian mujani 240ORANG buta yang selalu duduk di serambi majid itu akhirnya menikah juga. Tentu saja dengan seoran wanita pilihan orang lain yang bisa melihat. Orang buta ini menikmati pernikahannya meski bukan pilihan sendiri. Seringkali yang tepat untuk kita memang bukanlah pilihan kita, melainkan pilihan Allah untuk kita. Nikmati saja.

Suatu hari, isterinya berbisik mesra: “Suamiku, andai saja engkau melihat putihnya kulitku dan cantiknya wajahku, niscaya engkau akan terkagum-kagum kepadaku.” Sang suami yang buta itu cuma tersenyum dan berkata lirih: “Mengagumimu tidak perlu mata untuk melihat, melainkan membutuhkan hati untuk merasa. Mata seringkali menipu, sebagaimana yang dipandang juga bisa saja menipu. Sementara itu, hati tidak pernah berbohong.”

Sang isteri terpesona dengan indahnya kata-kata sang suami yang sarat nilai. Sang suami melanjutkan: “Hatiku mengagumimu cukup hanya karena engkau mau dijadikan isteri seorang yang buta. Tentang kulitmu yang putih dan wajahmu yang jelita iu, sungguh kalau itu benar, tak mungkin para lelaki membiarkanmu dikawiniku. Tapi, jangan sedih. Kenyataan terakhir ini bagiku tak penting.”