harga-minyak-siapJAKARTA, TODAY—Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (18/10/2016) di Amerika Serikat (AS) setelah munculnya kecemasan akan adanya kelebihan suplai.

Pelemahan tersebut terjadi setelah organisasi negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) mencatat produksi sebesar 33,6 juta barel per hari pada bulan September lalu.

Bahkan, ada beberapa negara-negara anggota OPEC yang diramalkan masih dilanda produksi berlebih. Salah satunya adalah Iran, yang berencana untuk memperbaiki produksi ke posisi sebelum terkena sanksi internasional di tahun 2012.

Hasilnya, harga minyak Brent jatuh dari USD51,95 per barel menjadi USD51,52 per barel. Di tengah sesi perdagangan, harga Brent sempat menyentuh titik terendah USD51,16 per barel.

Baca Juga :  Realme 10 Pro 5G Edisi Coca-cola Bakal Launching Bulan Ini, Berikut Spesifikasinya

Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) ditutup di angka USD49,94 per barel, atau turun dari posisi sebelumnya USD50,35 per barel. Tercatat, harga WTI terendah sepanjang sesi perdagangan sempat menyentuh USD49,47 per barel.

Tetapi, harga WTI tak sepenuhnya dipengaruhi oleh produksi OPEC. Menurut laporan penyedia jasa perminyakan, Baker Hughes, ternyata ada tambahan empat pengeboran di AS selama sepekan kemarin. Ini merupakan pekan ke-16 di mana produsen tidak memangkas produksi, sehingga ada kemungkinan suplai akan bertambah di masa depan. Untungnya, harga minyak tak terkoreksi terlalu dalam. Pasalnya, Energy Information Administration (EIA) AS meramal bahwa produksi shale oil akan menurun 30 ribu barel per hari di bulan November mendatang.

Baca Juga :  Saham Meta Merangkak Naik, Mark Zuckerberg Untung Besar Tahun Ini

Di samping itu, kontrak berjangka minyak mentah juga melonjak menjadi 12.932 barel, atau yang tertinggi sejak tanggal 13 Oktober lalu. Pelaku pasar juga menantikan finalisasi pemangkasan produksi OPEC pada pertemuan negara-negara anggota di Wina, Austria. Sebelumnya, OPEC setuju untuk memotong produksi harian antara 32,5 juta hingga 33 juta barel per hari.

Wakil Presiden Iran, Eshaq Jahangiri, berkomentar pada Senin kemarin bahwa Iran harus mendapatkan kembali pangsa pasarnya untuk mengantisipasi sentimen ini. “Tapi ekspektasi dari pemangkasan produksi OPEC selanjutnya membatasi kerugian,” ungkapnya.(Yuska Apitya/cnn)