alfian mujani 240BEGITU kagetnya para intelektual itu ketika berkunjung ke sebuah rumah sakit jiwa mereka menjumpai seorang pasien yang tangan dan kakinya terikat rantai besi, namun di wajahnya tersungging senyum dan di matanya ada cahaya binar. ‘’Mengapa Anda berada di sini,’’ tanya para intelektual itu. Pasien menjawab, “Mereka anggap aku gila ketika langkahku berbeda. Mereka menganggapku pikun ketika ucapanku berbeda dengan yang mereka harapkan.’’

Berbeda dengan kelaziman memang disebut gila. Namun menurut orang yang diikat itu: “Banyak orang yang tak paham apa makna gila yang sebenarnya. Gila adalah ketika tak ada kesepahaman dan kesesuaian antara akal, hati dan mulut. Yang kubincangkan adalah yang dari hatiku dan dari akalku. Maka aku bukanlah orang gila. Bahwa aku berbeda dengan mereka adalah karena hatiku berbda dengan mereka. Hati mereka terikat dengan bumi, sementara hatiku terikat dengan langit. Bagaimana mungkin dzikirku sama dengan mereka? Mana mungkin langkahku sama dengan langkah mereka?”

Para intelektual itu menganggukkan kepala pertanda paham. Diam-diam para intelektual itu merasa jadi tertuduh sebagai “gila” oleh si pasien itu karena masih sepaham dengan pandangan banyak orang dan berbeda dengan pemahamannya. Mau sepaham dengan sang pasien, sang intelektualpun agak khawatir dianggap gila oleh kebanyakan orang. Lalu siapakah sesungguhnya yang gila?