
Kendati peluang efisiensi makin sedikit, namun ia tidak khawatir. Ia beralasan, basis pendapatan Pertamina sudah cukup kuat.
Hal ini terlihat dari kenaikan produksi hulu migas yang naik 7 persen, kenaikan yield produk pengolahan, dan kenaikan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 2,5 persen. Apalagi rencananya, Pertamina akan menambah kontribusi pendapatan dari sektor hulu dari 30 persen menjadi 50 persen dari total pendatan perseroan di tahun ini.
“Yang penting, fundamental Pertamina sudah semakin kuat. Tentunya diperlukan berbagai inovasi lain agar laba perusahaan bisa semakin membaik di tahun ini,” pungkas Arief.
Lebih lanjut, Direktur Gas Pertamina Yenni Andayani menambahkan, setidaknya margin pendapatan sebelum pajak, bunga, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perusahaan juga perlu diperhatikan. Menurutnya, margin EBITDA adalah indikator finansial keuangan paling utama dibanding angka pendapatan. Pasalnya, margin EBITDA mencerminkan upaya perusahaan dalam menciptakan kinerja keuangan yang sehat.
Sebagai informasi, margin EBITDA tahun 2016 berada di angka 20,76 persen. Angka ini membaik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 12,28 persen. “Yang paling utama, margin EBITDA terus membaik sejak 2014. Ini menunjukkan bahwa Pertamina melakukan program efisiensi yang mendukung hasil finansial yang baik,” imbuh Yenni.(Yuska Apitya/cnn)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















