
“Dua kontras wilayah, pusat kota indah, minus terminal dan kontras pemukiman yang semestinya jadi keprihatinan pimpinan kota, adalah cermin psikologis peminpin kota: tidak berempati.â€
Menurutnya, terjadi kesenjangan antara aksi pemerintah dengan kebutuhan warga. “Dalam situasi rakyat yang sulit, sebaiknya kita berempati dengan tidak mengumbar tindakan-tindakan yang mensegregasikan diri [dari] pergumulan warga. Pemimpin terpisah dari rakyat. Atau rakyatnya yang mau saja dibodohi dan senang dengan pencitraan pemimpinnya?†ucapnya.
Ia mengakui bahwa sebagian kalangan mungkin akan mengatakan bahwa rangkaian kritikannya tersebut adalah “kampanye dan pencitraan†bagi balon Walikota Bogor itu. “Bisa saja. Yang pasti saya muak dengan politik kosmetik Kota Bogor,†tegasnya. “Kalau ada yang tersinggung telepon saya saja. Kita diskusi kalau perlu bersama stakeholder kota,†tutupnya.(Yuska Apitya)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















