Sugeng Kritik “Politik Kosmestik” Kepemimpinan Bima Arya

“Dua kontras wilayah, pusat kota indah, minus terminal dan kontras pemukiman yang semestinya jadi keprihatinan pimpinan kota, adalah cermin psikologis peminpin kota: tidak berempati.”

Menurutnya, terjadi kesenjangan antara aksi pemerintah dengan kebutuhan warga. “Dalam situasi rakyat yang sulit, sebaiknya kita berempati dengan tidak mengumbar tindakan-tindakan yang mensegregasikan diri [dari] pergumulan warga. Pemimpin terpisah dari rakyat. Atau rakyatnya yang mau saja dibodohi dan senang dengan pencitraan pemimpinnya?” ucapnya.

BACA JUGA :  Soroti Proyek Puskesmas Pondok Rumput, Warga: Anggaran Rp600 Juta, Keselamatan Kerja Nol Besar

Ia mengakui bahwa sebagian kalangan mungkin akan mengatakan bahwa rangkaian kritikannya tersebut adalah “kampanye dan pencitraan” bagi balon Walikota Bogor itu. “Bisa saja. Yang pasti saya muak dengan politik kosmetik Kota Bogor,” tegasnya. “Kalau ada yang tersinggung telepon saya saja. Kita diskusi kalau perlu bersama stakeholder kota,” tutupnya.(Yuska Apitya)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================