
Di era kehidupan ultramodern ini tentu banyak rumah perawatan untuk mengobati penyakit kebodohan. Ada sekolah formal dari level kelompok bermain hingga pasca sarjana, ada forum-forum ilmu, ada majelis ilmu, bahkan banyak majelis ilmu virtual yang bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Tapi sayangnya kita belum mengoptimalkan rumah-rumah tempat menyembuhkan penyakit kebodohan ini. Tengoklahlah di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, dan di majelis-majelis ilmu berapa banyak orang yang rajin bertanya? Tak banyak, hanya 10:1, dari sepuluh orang hanya satu orang yang rajin bertanya untuk mencari kejelasan dan pemahaman yang benar. Ini menunjukkan betapa sangat sedikitnya orang yang menyadari dirinya masih bodoh. Sembilan orang lainnya sering kali merasa sudah tahu dan sok tahu.
Akibat dari terlalu banyaknya orang-orang yang sok tahu tetapi sesungguhnya tak tahu itu, tentu sangat fatal. Bangsa ini tertinggal jauh. Masyarakatnya gemar berdebat dan bertengkar. Celakanya, yang sering diperdebatkan dan dipertengkarkan adalah pepesan kosong. Alhasil, asse-asset bangsa dirampok para penyamunpun kita masih asyik berdebat. Bahkan sebagian dari kita menganggap para penyamun asset bangsa itu sebagai pahlawan pertumbuhan, pahlawan kemakmuran, penyelamat kaum miskin. Karena itu, jangan heran jika suatu saat nanti kita dikirim pemimpin dzalim sebagai teguran dari langit. Dan, bisa jadi teguran itu berubah jadi adzab. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















