
Adapun, faktor pertama adalah kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 20 persen ke dalam Solar, atau mandatori B-20, yang menyebabkan porsi Solar murni di dalam penyaluran BBM berkurang. Selain itu, memang saat ini permintaan Solar Pertamina juga makin menyusut gara-gara konsumen pindah ke BBM jenis diesel lain seperti Dexlite.
Menurut data perseroan, proporsi penjualan Solar terhadap bahan bakar diesel Pertamina tercatat 96,8 persen pada bulan Juli kemarin. Angka ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana penjualan Solar tercatat 98,9 persen dari seluruh penjualan diesel Pertamina.
“Artinya, produksi yang sudah bagus ini, kalau Solar berlebihan, diserap dulu oleh swasta yang lain daripada yang lain impor. Kalau masalah harga, nanti bisa negosiasi dengan Pertamina,” ujar Toharso.
Adapun menurutnya, sebenarnya Indonesia tidak mengalami surplus Solar. Hanya saja, kelebihan pasokan Solar seolah-olah terjadi karena ada badan usaha lain yang menjual Solar. Menurut catatan perusahaan, saat ini Pertamina mengempit 70 persen pangsa pasar Solar di Indonesia, di mana sisa 30 persen dijual oleh badan swasta seperti Shell.
“Pertamina memang mendorong ke pemerintah agar mereka (badan usaha lain) tidak perlu impor,” paparnya. (Yuska Apitya)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















