Menggagas Dakhwah Lingkungan

Persoalan bencana akibat ulah manusia itu tidak lain karena pemahaman nilai agama dan lingkungan belum membaik. Setiap orang yang paham agama maka tidak banyak merusak. Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk melakukan mitigasi bencana alam ini. Pertama, literasi alam dan agama. Biasanya pertobatan lebih cepat jika seseorang diarahkan untuk memahami nilai agama.

Pesantren bisa dijadikan sebagai wadah gerakan literasi alam dan bencana. Lebih baik lagi jika menambahkan matapelajaran Islam, Lingkungan dan bencana alam. Gerakan literasi yaitu membaca ayat-ayat lingkungan hidup. Mulai dari ayat tetang siklus hujan, tanaman, dan pengelolaan sumberdaya alam. Membaca ayat-ayat ini akan menambah ilmu pegetahuan tentang lingkungan sehingga mengurangi perilaku untuk merusak.

Sekaligus menyadari bahwa manusia telah banyak melakukan kesalahan sehingga tersebar bencana banjir dan longsor. Kedua, materi dakwah perlu diperkaya dan dianekaragamkan. Para lulusan pesantren sangat baik jika mereka diarahkan untuk dakwah tentang pangan, kerusakan lingkungn dan bencana alam. Penyampaian materi dakwah tentang ini berpotensi menambah ilmu pengetahuan banyak orang.

Setidaknya mereka pernah mendengar dakwah tentang ini sehingga besar kemungkinan kesadara itu akan tumbuh pada diri mereka.  Ketiga, menggagas pesantren ramah lingkungan. Pada dasarnya ajaran Islam memang dekat sekali dengan pengelolaan lingkungan hidup.

BACA JUGA :  Persikabo All Star Tantang PSB Bogor di Laga Derby HJB ke-544

Islam mengajarkan kerbersihan sehingga setiap umat Islam wajib berwudlu sebelum shalat, tidak buang sampah sembarangan dan tidak buang kotoran pada sumber kehidupan seperti sungai. Bahkan, disuruh untuk menghijaukan lingkungan. Tentu tidak mungkin ada pesantren dengan lingkungan kumuh, penuh sampah, kotor dan tidak hijau.

Selain itu, dari pesantren bisa menjadi contoh untuk menerapkan perilaku hemat sumberdaya alam termasuk air dan energi listrik. Akar persoalannya dimana perilaku hemat sumberdaya alam belum sepenuhnya menjadi perilaku kebanyakan orang. Air hujan terbuang begitu saja dan sinar matahari terlewatkan dari pagi hingga sore hari.

Ketiga, gerakan masal secara nasional tentang dakwah lingkungan. Masjid-masjid besar diseluruh Indonesia perlu menggagas berupa kultum singkat dimasjid. Dilakukan setelah melaksanakan shala. Kultum tentang masalah lingkungan dan bencana sangat efektif dilakukan setelah shalat lima waktu. Penyampaian tidak perlu panjang, misalkan 5 menit setiap kali shalat.

BACA JUGA :  Rotasi Mutasi Pejabat, Wabup Bogor Minta Profesionalitas dan Integritas

Terutama apabila dilakukan pada masjid-masjid besar di Indonesia dimana jamaahnya sudah sangat banyak. Setiap jamaah yang mendengar bisa sadar dan dapat ilmu pengetahuan. Selanjutnya jika mereka menceritakan kembali apa yang telah didengar pada saat kultum kepada keluarga dan orang lain maka penyebarannya semakin meluas.

Hanya saja kultum tentang bencana lingkungan masih tergolong jarang disampaikan pada lingkungan masjid. Disamping itu, perlu khotbah jumaat tentang bencana dan lingkungan secara nasional. Lebih efetif lagi apabila penyampaian materi dilakukan pada saat khutbah jumat.  Setiap umat beragama Islam sudah pasti harus shalat jumat maka jumlah jamaah lebih banyak lagi. Tentu lebih banyak lagi umat yang mendengar dan segera berubah.

Setidaknya lebih banyak umat yang mengetahui. Untuk itu, Indonesia sudah saatnya menggagas masalah lingkungan dengan agama yaitu dakwah hijau. Dakwah selama ini terkesan belum berkelanjutan sebab masih jarang menyentuh dakwah lingkungan hidup. Lebih banyak dakwah tentang seputar persoalan sosial. Padahal manusia hidup tidak dipugkiri harus hidup harmonis dengan alam semesta. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================