Warung Kopi Klothok, Ikon Baru Kuliner Jogja

Menunya pun macam-macam. Untuk menyebut beberapa, ada lodeh telor dadar, ceker, ayam goreng, pindang. Kalau untuk makanan ringannya, ada jadah goreng, pisang goreng. Makanan yang kerap diceritakan ibu atau nenek kita bukan? Minumannya juga, macam-macam. Tetapi andalannya adalah teh tawar, teh manis panas, teh tubruk dan kopi klothok. Nama dan jenis minuman ini, sebagaimana panganannya, mungkin lazim. Tetapi karena citarasanya yang ‘nendang’ lah maka orang rela datang dari jauh bahkan luar kota demi mencicipinya. Kebanyakan malah bukan pendatang baru, umumnya sudah berulang kali mampir dan menyantap makanan dan minuman Warung Kopi Klothok.

Makan nasi panas, dengan lodeh, sayur asem, telor dadar krispi, dan dilengkapi sambal dadak pedas, wuihhh maknyusnya. Makannya di pedesaan dan di tengah suasana ladang. Duduk di atas tikar yang digelar, serasa piknik, murah meriah pula.  Nendang banget!!

Anak remaja zaman now juga banyak yang datang bergerombol. Lebih-lebih mahasiswa. Selain umumnya keluarga atau pertemanan, juga kolega. Di sini menikmati makanan terasa asyik karena hitung-hitung sembari wisata alam.

Kekuatan kesederhanaan berikut adalah: harga.  Bagi turis lokal atau kalangan awam, makan siang di sini hanya butuh uang Rp 11.500. Ya, sebelas ribu lima ratus rupiah.  Dengan uang segitu Anda sudah berhak menikmati nasi putih sepuasnya dengan lodeh kluwih, lodeh terong, gereh layur dan sambal dadak. Inilah paket murah sekenyangnya, sepuas-puasnya. Semerdeka-merdekanya.

Masakan yang tersaji—semua bahan baku dan materialnya bersumber dari tanaman dan ternak yang dibeli dari warga sekitar warung, serba panas dan ‘baru’.  Makan dari pagi sampai sore, dihitungnya tetap dengan harga sepiring, alias satu porsi saja. Tinggal atur kekuatan lambung Anda saja, bro…

Tetapi bermodal Rp 10 ribu pun Anda masih bisa makan sepuasnya dan sekenyangnya juga. Uang segitu, menunya nasi putih panas sepiring hingga sebaskom sekuat Anda, lodeh tempe lombok ijo, lodeh terong, lodeh kluwih dan sayur asem. Juga silakan nambah-nambah, tidak dihitung lagi.

Apapun paket yang Anda pilih, tetap tersedia menu tambahan sesuai selera. Ada sego megono—yakni nasi campur sayuran, bumbu dan dikukus– Rp6500, juga tahu bacem Rp3500, ayam goreng, pindang goreng, ceker, tempe garit  dengan harga variatif dan tetap serba murah.

BACA JUGA :  Jangan Langsung Dibuang! Sisa Makanan Ini Bisa Menyuburkan Tanaman di Rumah

Testimoni Manis Dari Selebritis

Dengan tiga kekuatan unggul kesederhanaannya—lokasi, kelezatan makanan, harga–  Warung Kopi Klothok jadi cepat masyur. Laris manis. Mereka yang datang, kembali dan tergoda kembali lagi ke sini. Kalau hanya karena harga super-murah, tentulah tak jadi alasan Warung Kopi Klothok diserbu penggemar kuliner tradisional. Bu Ani SBY dan keluarga, selebritas macam Garin Nugroho, Hamis Daud, dan kalangan mentereng artis lainnya menyukai karena tiga kekuatan utamanya tadi.

“Di sini saya menjadi orang Indonesia asli, dengan masakan dan kudapan yang selalu dicari dan dikangeni, “kata Ny Tri Tito Karnavian, Isteri Kapolri, menuliskan kesannya.

Mungkin saking nikmatnya, orang tak ragu menabrak diet makan. Bayangkan dengan di tengah hari, ada semilir angin,  suasana hening perdesaan tanpa bau asap knalpot , tanpa lalu-lalang kendaraan bermotor, masakan baru dan serba hangat khas tradisi rumahan yang lezat, kaya bumbu, plus sambal pedas bagi yang minat… Lengkaplah perasaan menikmati hidup itu…

“Saya sampai nambah,” komentar pendek Maudy Ayunda.

“Nyosssh rasanya..Mak pyar!!” tulis Eross.

Segala puja-puji ditiupkan pelanggan baru atau lama. Dengan segala kenikmatan yang dirasakan, banyak yang mengernyitkan dahi. Mosok sih sebegitu murah, Rp 11.500, apa tidak rugi? Perhitungan matematika, ngga nyampe. Terlalu murah dan, karenanya, pastilah merugi.  Saat saya berbincang dengan suami-isteri pemilik Warung Kopi Klothok, Mas Pramono dan Mbak Sri Handayani, keduanya merespon kompak, “Tidak ada kerugian. Semua sudah diatur Allah.” Bagi mereka, rezeki pun tak melulu soal materi, tetapi bermakna luas seluasnya.

Saat saya berbincang dengan karyawan Warung Kopi Klothok, seorang paruh baya mengantre dan membawa dua lusin telor krispy di kedua tangannya. Di depan kasir, pria ini cukup mengatakan apa saja dan berapa yang diambilnya. Itu tanpa ditanya atau diselidiki lebih jauh kebenarannya. Batin saya, bisa saja orang yang pesan dan ambil telur kripy 5 tapi ngakunya 2, atau makan 3 ngaku 1. Ya, seperti tahun 1980 ada istilah “darmoji” yang kira-kira artinya “dahar limo ngaku siji”. Ya itu, makan lima tetapi ngakunya ambil satu.

Para karyawan Warung Kopi Klothok—dari tukang cuci piring, tukang masak dan seluruh pelayannya adalah warga setempat– bukan tidak tahu jika ada yang ‘menembak’ alias bohong. Mereka tahu! Tetapi mereka membiarkan saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Ketika saya singgung hal ini ke Mas Pramono dan Mbak Handayani, yang seorang pengunjung, artis Neno Warisman juluki “Sepasang Merpati Surga Dunia”, keduanya membenarkan.

BACA JUGA :  Memahami Perbedaan Skizofrenia dan Bipolar: Dua Gangguan Mental yang Sering Disalahartikan

Ya, dalam konsep agama, Pramono-Handayani menjalankan bisnis dengan Allah. Artinya, mereka tak menganggap dibohongi pelanggan, dan justeru senang makanannya membantu mereka yang kantong kempes atau mahasiswa yang jajannya pas-passan. Secara hitungan kapitalistis, untung-rugi, banyak yang ‘nembak’ atau bahkan ngga bayar, Warung Kopi Klothok mustinya cepat bangkrut. Nyatanya tidak. Usaha kuliner rumahan ini malah tetap maju dan bahkan makin populer di kalangan warga Jogja sendiri dan pelanggan dari pelbagai kota.

Dari 365 hari dalam setahun, Warung Kopi Klothok hanya tutup lima hari, libur khusus tiga hari puasa Ramadhan terakhir  dan dua hari lebaran. Selebihnya buka, dari jam 7 pagi hingga pukul 22.00 malam.

Warung yang berdiri sejak 22 Desember 2015 ini, bertepatan dengan Hari Ibu, bukan kebetulan. Pemilik warung memang menempatkan nilai luhur tinggi pada Ibu sebagai perempuan pejuang dan paling besar jasanya bagi semua orang. Jangan kaget pula di sebuah dindingnya tertera sangat jelas tulisan “Wanita Hamil, gratis, tidak usah bayar”. Saya tanya Pramono, apakah itu gurauan saja?  Lelaki pengusaha dan dulunya aktif kontraktor ini menjawab, itu memang serius. Terus, bagaimana teknisnya? Tidak perlu orang membawa keterangan dan bukti kehamilan segala. Cukup dengan pengakuan hamil, kasir akan membebaskan perempuan hamil dari pembayaran apapun. Apa tidak merugi? Ah, kata  suami-isteri pemilik Warung Kopi Klothok, berdagang dengan Tuhan tidak bicara angka dan rugi. Semua jadi ibadah dan rezeki.

Dikelola profesional oleh Pramono dan Handayani dimotori manager yang juga puteri kandung mereka, Halida Nursyah Arnaiz yang tengah kuliah S-2 di Jogja, warung ini menjunjung tinggi nilai-nilai, kejujuran, moralitas. Juga dipadu konsep manunggal dengan alam, lingkungan dan tradisi lokal.  Akhirnya, disempurnakan pula dengan maknyusnya makanan dan minuman yang ditawarkan, akhirnya Warung Kopi Klothok kini  jadi ikon baru tujuan wisata Jogja. Belum sah rasanya Anda ke Jogja jika belum menjajal Warung Kopi Klothok. Wallahualam. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================