Jepang Terharu dan Siap Belajar Ke Indonesia Lakukan Cara Lunak Tangani Terorisme

“Setiap saya di undang ke forum internasional, selalu ada negara yang meminta untuk datang, termasuk saat saya memberikan paparan penanganan terorisme di Indonesia dalam sidang PBB di New York. Saat itu, Sekjen PBB Antonio Guterres juga menyatakan ingin melihat contoh ini sebagai masukan untuk menciptakan perdamaian di dunia,” ungkap Komjen Suhardi.

Banyaknya negara yang tertarik belajar dari Indonesia tidak lepas dengan dibuatkanya film tentang pola soft power approach yang dilakukan BNPT di Tenggulun dan Sei Mencirim. Atas saran Menlu Retno Marsudi, film ini di subtitle bahasa Inggris sebagai bahan sosialisasi yang berharga. Karena itulah Kepala BNPT diundang ke banyak forum dunia seperti di PBB, di Yordania membahas Boko Haram, di Asia Australia Summit di Sidney.

Di sanalah paparan itu ditayangkan sebagai contoh keseimbangan hard power approach yang semua negara punya  dengan soft power approach yang baru dikembangkan oleh BNPT. Bahkan di Yordania soft power approach ini baru tataran konsep.

BACA JUGA :  Job Fair HJB ke-544 Pemkot Bogor Resmi Dibuka, Sasar Lulusan SMA hingga Sarjana

“Begitu melihat film kita dan sudah pada tataran implementasi, mereka kaget dan tertarik untuk belajar. Artinya ada ruang buat kita untuk mencari solusi, minimal untuk mereduksi radikalisme dan terorisme melalui cara-cara kemanusiaan,” tutur Komjen Suhardi.

Ia melanjutkan bahwa inisiatif dari didirikannya Yayasan Lingkar Perdamaian dan Ponpes Al Hidayah ini datang dari mantan teroris sendiri, sementara BNPT hanya memfasilitasi. Seperti di Al Hidayah, awalnya hanya pesantren kecil, tapi mereka memiliki itikadi baik. “Kita tawari mau gak dibangunan masjid? Mereka mau, ya kita bangunkan dan kita gabungkan dengan program BNPT agar mereka bisa berintegrasi dengan masyarakat sekitar dan tidak dimarginalkan. Sekarang berhasil, bahkan banyak masyarakat sekitar yang menitipkan anak-anaknya di pesantren tersebut,” jelas Suhardi.

Komjen Suhardi menegaskan, bahwa para mantan teroris itu perlu difalisitiasi. Menurutnya, ada dua hal yang mempengaruhi mantan teroris bisa kembali menjadi baik. Pertama faktor internal dari diri pribadi untuk berubah. Kedua faktor penerimaan masyarakat.

BACA JUGA :  Bapenda Kabupaten Bogor Minta Desa dan Kelurahan Laporkan Potensi Pajak

“Kalau dia dimarginalkan, tentu potensi kembali besar kaerna hilang harapan. Ini yang terjadi di Al Hidayah dan Yayasan Lingkar Perdamaian ini. Mereka mau berbaur. Bahkan di Tenggulun jumlahnya naik jadi 43. Itu baru pelakunyanya belum keluarganya. Mereka semua orang baik, harus diberi kesempatan. Orang boleh punya masa lalu buruk, tapi mereka punya hak untuk merajut masa depan yang lebih baik,” ujar Komjen Suhardi.

Sementara delegasi Jepang melalui juru bicaranya sangat berterimakasih diterima dengan baik oleh tuan rumah dan BNPT. Mereka sangat terharu bisa bertemu langsung dengan mantan teroris yang cukup banyak.

“Kami sangat mengapresiasi dengan para mantan teroris di sini yang sekarang justru berusaha menggaungkan perdamaian. Mudah-mudahan ini terus berjalan dan bisa menciptakan perdamaian abadi, tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia,” kata juru bicara delegasi Jepang tersebut. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================