
Seperti dikutip dari transfermaster.com, Selena Flores, yang sejak lama mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan mengaku mendapatkan kursi roda pertamanya dari program yang dicetuskan Lenin Moreno.
“Ia membawa kami semua keluar dari keterasingan,” kata dia kepada Miami Herald. “Kami tak lagi dianggap aib bagi keluarga. Bahkan kursi roda tak mampu menghentikannya — ada abilitas dalam disabilitas.”
Lenin Moreno menjadi pemimpin negara dengan disabilitas paling terkenal di dunia, sejak mantan Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt, harus bergantung pada kursi roda karena polio, kala memimpin negaranya selama Depresi Besar (Great Depression) dan Perang Dunia II.
Cobaan untuk Sang Presiden
Seperti halnya pemimpin negara lain, masa pemerintahan Lenin Moreno mendapat berbagai cobaan.
Ia mewarisi utang dalam jumlah besar dari pendahulunya dan berupaya mengatasi imbasnya di bidang ekonomi.
Salah satunya adalah dengan memotong pengeluaran pemerintah, seperti mengakhiri subsidi bahan bakar sebesar 1,3 juta dolar AS per tahun dan beralih ke lembaga internasional seperti IMF untuk mendapatkan kredit.
Pencabutan subsidi adalah bagian paket reformasi fiskali pemerintah senilai AS$2 miliar, termasuk pelonggaran terhadap perlindungan pekerja, potongan pajak perusahaan, dan langkah-langkah lain untuk menggairahkan ekonomi.
Para pengunjuk rasa pun turun ke jalan, guna memprotes kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi bahan bakar. Angkutan umum dan pengemudi truk memblokir jalan-jalan, serta mahasiswa dan pekerja turun ke jalan di beberapa kota.
Sektor bisnis terdampak. Efek demo meluas ke dunia penerbangan. American Airlines, Iberia, Air France, dan KLM mengubah rute penerbangan mereka setelah pemrotes memblokir semua rute masuk dan keluar Bandara Quito.
Unjuk rasa mereda setelah Presiden Lenin Moreno setuju untuk membatalkan upaya penghematan yang digugat pendemo. (Amanda/PKL/net)















