
Semula banyak petani yang memanfaatkan air asin tersebut untuk dijual sebagai obat krupuk puli. Namun, karena harganya tak sebanding dengan biaya proses pembuatan, akhirnya petani tak lagi memproduksi obat puli.
“Yang besar itu ada dua, terus sumber anak itu yang kecil kemungkinan ada delapan. Jadi ada 10 titik,†ujar Kepala  Dusun Brayu, Edy Purwanto, seperti dikutip dari Liputan6.com, Senin (13/1/2020).
Ia menambahkan, kalau area kecil masih bisa ditanami. Kalau besar 15 meter tidak bisa ditanam sama sekali.
Sebelumnya, area persawahan di Mojokerto yang mengeluarkan sumber mata air asin ini pernah dibor oleh Pertamina pada 1998, namun karena kandungan gas buminya sedikit, akhirnya Pertamina menghentikan pengeboran.(Dena/PKL/net)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















