CORONAVIRUS; RAHMAT ATAU LAKNAT? (Bagian-1)

Hamid Basaib, mentor jurnalistik investigative saya 33 tahun lalu di harian Masakini Jogjakarta, sedikitnya mencatan 25 hikmah dan rahmat yang menyertai merebaknya Coronavirus di jagat raya, sebagai berikut: Satu, Coronavirus menunjukkan kepada kita bahwa Amerika Serikat yang sangat arogan dengan posisinya sebagai polisi dunia, ternyata tidak ada apa-apanya. Amerika bukan lagi negara terhebat yang patut ditakuti apalagi didewa-dewakan. Ketika Coronavirus menghantam, Amerika Serikatpun tak berdaya. Bahkan untuk menggerakkan roda perekonomiannya yang terancam lumpuh, Presiden AS Donald Trump dengan tak punya malu mengajukan pinjaman ke Republik Rakyat China yang hamper 10 tahun terakhir ini menjadi seteru utamanya. Dua, Coronavirus juga membuka mata kita lebar-lebar bahwa China telah memenangkan Perang Dunia III tanpa memuntahkan peluru kendali satu pun ke daerah pertahanan musuh. Dahsyatnya lagi, meski tanpa menembakan peluru pembunuh massal canggih, China  melaju tak terbentung. Taka da satupun negara adidaya di Barat yang bias membendungnya. Tiga, Coronavirus juga membuka tabir rahasia ratusan tahun bahwa orang Eropa ternyata tidak seterdidik seperti kelihatannya. Bahkan bangsa Eropa adalah bangsa terpanik dalam menghadapi corona pandemic. Mereka yang selama ratusan tahun mencitrakan sebagai bangsa terdidik, bangsa terhormat ternyata juga tak siap menghadapi gempuran Coronavirus. Lihatlah Italia, Prancis betapa kewalahannya mereka mengantisipasi serangan mahluk maha halus ini. Empat,  Coronavirus telah memaksa kita untuk mengaku kebenaran sunnatullah bahwa keluarga dan sahabat sungguh penting untuk dijaga. Kita suci dan sabda Nabi Muhammad sesungguhnya telah memberikan panduan tentang betapa pentingnya keluarga dan sahabat dalam dalam menjalankan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi. Kitab suci telah menjelaskan secara gamblang betapa penting dan mulianya kedudukan keluarga melalui kisah-kisah orang mu’min, para nabi dan rasul-Nya. Begitu juga kedudukan sahabat. Imam Ahmad ‘’Jika orang di dekat kamu (sahabat) ucapannya tak memberikan manfaat dan tidak membuat kamu menjadi lebih baik, maka jauhilah orang itu.’’ Coronavirus mengajari kita untuk pandai-pandai memilih sahabat yang bermanfaat dunia akhirat. Secara fisik, Coronavirus telah memaksa kita untuk menjaga jarak aman, dengan siapapun yang berpotensi mendatangkan madarat sebagai media penularan virus.    Lima, Coronavirus juga membuka mata kita lebar-lebar bahwa orang kaya ternyata kalah kebal terhadap penyakit dibanding orang miskin. Ini artinya, kekayaan yang berlimpah ruah itu sama sekali tidak menjamin kekebalan seseorang dari wabah mematikan. Dalam kasus Covid-19 di Indonesia, kita menyaksikan begitu banyak orang kaya yang sembunyi ketakutan. Dan juga tak sedikit dari orang-orang kaya yang tidak bias menghindar dari Coronavirus. Enam, Coronavirus juga memberitahukan kepada kita bahwa manusia itu selalu mau untung dan mau menang sendiri, terlepas dari kemampuan ekonominya, bila harga-harga naik. Munculnya antrean panjang di pusat-pusat perdagangan sembako untuk memborong Sembilan bahan kebutuhan pokok. Mereka memborong bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan stok sendiri tetapi juga untuk dijual kembali demi raup untung besar. Akibatnya, banyak bahan pangan langka di pasar. Bahkan ketika Coronavirus sudah berada di zona yang sangat mencemaskan, para spekulan inipun memborong alat-alat pengaman diri (APD) seperti masker, hand sanitizer, bahkan alkohol pun sulit dicari. Ada kerakusan yang dipertontonkan. Tujuh, Coronavirus juga mengajarkan kepada kita bahwa penanganan dan pengerjaan segala hal harus  diserahkan kepada ahlinya. Jangan coba-coba menyerahkan satu pekerjaan penting kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancuran segera tiba. Dalam konteks Coronavirus kita telah menyaksikan tak ada pastur, ustad, rabbi dan semua agamawan yang sanggup menyelamatkan pasien. Yang mampu meanangani pekerjaan ini hanya petugas kesehatan. Mereka inilah ahli yang memiliki ilmu di bidang penanganan pasien. Delapan, Coronavirus memberi tahu kita bahwa umat manusia adalah virus sejati bagi bumi ini. Yang membuat kerusakan di muka bumi ini sejatinya adalah manusia, bukan Coronavirus atau virus yang lain. Itu sebabnya, dulu, pada saat Allah menciptakan mahluk bernama manusia, para malaikan dan iblis protes keras. Bedanya, malaikan protes berlandaskan keberlimuan dan ketaan kepada Allah, sedangkan iblis protes berdasarkan kesombongan dan pembangkangan. Dalam protesnya, malaikan berkata: ‘’Wahai Allah, robku.. mengapa engkau ciptakan mahluk manusia yang jelas-jelas akan membuat kerusakan di muka bumi?’’ Tuhan menjawab protes itu dengan mengatakan: ‘’Aku maha mengetahui apa yang engkau tidak ketahui!’’ Allah menjawab kritikan malaikan itu tidak mengedepankan kekuasaan, tetapi mengedepankan keberilmuan. ‘’Aku maha tahu.’’ Dan, Tuhan tidak memenjarakan para malaikat yang telah berani mengkritik atas penciptaan Adam itu. Para malaikatpun bersujud kepada Adam dengan penuh ketaatan kepada Sang Pencipta. Sementara Iblis protes dengan penuh kesombongan. ‘’Mengapa aku harus tunduk pada Adam yang Engkau ciptakan dari tanah, sementara aku Engkau ciptakan dari api?’’ Terhadap iblis yang kurang ajarpun Tuhan tidak memenjarakannya. Juteru Allah memberikan kebebasan hidup lebih lama kepada iblis untuk menggoda anak Adam hingga akhir zaman. Iblispun keluar dari surga untuk memulai petualangan menggoda umat manusia. Ada adalah manusia pertama yang menjadi korban godaan iblis. Godaan iblis adalah ujian bagi umat manusia, apakah kita akan lulus ataukah akan terjerumus? (Bersambung)
Halaman:
« 1 2 » Semua
BACA JUGA :  Gagal Lolos SNBT 2026? Masih Ada Peluang Masuk PTN Lewat Jalur Mandiri, Ini Daftar Kampus yang Buka Pendaftaran Juni

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================