
Oleh : H. Ade Irawan, MM (Pembina Rumah Shalawat)
Bangsa di berbagai pelosok dunia umumnya dan khususnya masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia tengah menghadapi persoalan yang cukup pelik, yaitu datangnya pandemi virus corona (covid-19). Dimana kehadiran pandemic covid-19 ini telah merusak berbagai sector kehidupan manusia, mulai dari budaya, pendidikan, politik, dan ekonomi. Kondisi ini tentu menjadi ujian besar manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, betapa tidak kini banyak masyarakat yang mulai terpukul dari pandemi covid-19 ini, yang paling berat tentunya pada factor ekonomi dimana mulai terjadi kegoncangan ekonomi sebagai masyarakat terutama disektor ekonomi mikro misalnya saja pekerja pabrik, berbagai pabrik mulai memutus hubungan kerja atau merumahkan sebagian karyawannya. Tak hanya itu banyak masyarakat yang ekonomi kecil mulai kesulitan dalam berniaga banyak pedagang kecil mulai kesulitan berjualan, sopir angkot kesulitan mendapatkan penumpang, ojol pun demikian tak lagi mampu membawa penumpang, para karyawan mulai dibatasi pekerjaannya, kehidupan lainnya seperti pendidikan disarankan melalui media daring atau digital. Wabah dan Puasa Sebagai Ujian Kondisi yang dijelaskan diatas merupakan wujud keimanan bagi seorang muslim. Dimana setiap muslim akan menghadapi cobaan atau ujian dalam kehidupannya, dan bisa jadi hari ini Allah menurunkan ujian sebagai bentuk rasa sayang Allah kepada ummatnya. Soal ujian yang Allah berikan tentu menjadi hak mutlah Allah dalam menguji setiap insan manusia. Sebagaimana Firman Allah SWT : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Dan Hudzaifah bin Al yaman radhiallahuanhu berkata : “ Sesungguhnya Allah tidak menciptakan sesuatupun kecuali dalam keadaan kecil kemudian membesar, kecuali menciptakan musibah, Dia menciptakannya dalam keadaan besar kemudian mengecil ”. (Bahjatul majelis, hlm.350). Bagi ummat islam, pada April hingga Mei nanti tentu ujian bertambah berat dimana selain menghadapi pandemic covid 19 juga memulai ibadah puasa ramadhan. Karena, bertepatan hari jumat tanggal 24 April ini semua ummat islam di Indonesia mulai menjalankan rukun islam yang ke-4 yaitu menjalankan ibadah puasa 1441 H. karena, puasa juga merupakan ujian yang berat bagi seorang muslim kecuali orang-orang yang benar-benar beriman. Dua ujian ini merupakan, sebuah media bagaimana seorang muslim kembali memperkuat keimanannya dalam bentuk kesabaran, dimana kesabaran ini merupakan sebuah wahana kontemplasi antara insan dengan sang khaliknya. Bisa dibayangkan, jika seorang muslim tak sabar menghadapi ujian ini, tentu jalan pintas akan diambil tanpa berpikir mengenai dampak atau hal yang akan terjadi setelahnya. Maka dari itu, sabar adalah perisai utama saat ini bagi seorang muslim, selaian sebagai wujud keimanan, maka sabar juga sebagai wujud dari ketakwaan seorang muslim, hal ini dijelaskan dalam Al Quran, Yaitu : “Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. [Al-Baqarah : 177] Bukan hanya itu, orang-orang yang sabar akan mendapat cinta dari Allah, sebagaimana firmannya : “Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. [Ali Imran : 146]. Kalau sudah mendapat Cintanya Allah, tentu kebaikan dunia dan akhirat akan menjadi milik seorang muslim seutuhnya. Dan pada akhirnya dua ujian yang Allah berikan yaitu ujian menghadapi wabah Codi-19 dan Puasa dibulan Ramadhan, semua tertuju pada bagaimana gugur atau hilangnya dosa yang ada dalam setiap diri seorang muslim, sebagaimana riwayat hadist yang berbunyi, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan bagi, muslim yang bersabar kemudian tetap istiqomah berpuasa Allah jamin dengan penghapusan dosa sebagaimana hadist : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim). Allah Ingin Memuliakan Kembali Manusia Mengenai hikmah dari apa yang terjadi saat ini, penulis hanya ingin menutup dengan sebuah pemaknaan bahwa tentang bagaimana relasi jiwa dan jasad yang Allah berikan dalam mempergunakannya saat ini?. Manusia terdiri dari jasad dan ruh, dan sebaik-baik penciptaan Allaha dalah manusia. Namun kenyataan-nya manusia lebih memperhatikan kebutuhan jasad-nya daripada kebutuhan ruh-nya. Misal seseorang sakit gigi, maka diperiksakan-nyalah giginya ke dokter. Sedang lapar, maka bergegas segera makan. Begitu cepatnya kebutuhan jasad-itu ditunaikan, namun jika kebutuhan ruhiyah-nya banyak orang yang lamban, belum kegiatan negative lainnya yang dilakukan berbagai manusia. Ditengah kondisi saat ini penulis tetiba teringat rangkaian surat Al Fajr dalam Al Quran. Yaitu “Demi Fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam apabila berlalu, Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?, Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad?, (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan (terhadap) kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan (terhadap) Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka, sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi, Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”, Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”, Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan, Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu, Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.”, Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya., Wahai jiwa yang tenang!, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya., Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Dari surat Al Fajr diatas, penulis hanya ingin menggaris bawahi ayat “Wahai jiwa yang tenang!, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya., Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Potongan 4 ayat terakhir dalam surat Al Fajr ini merupakan tanda bahwa Allah sangat sayang terhadap hambanya terutama kepada seorang muslim, untuk kembali menjadi manusia yang utuh baik jiwa maupun raga, maka dengan kondisi saat ini dimana ada pandemic covid-19 berbagai unsur ibadah yang saat ini umat islam jalankan agar dilakukan dirumah saja dan mengikuti berbagai imbauan pemerintah dan para ulama dalam menangani Covid-19 patut kita jaga dan bantu bersama. Bagi penulis, memang berat ditengah sedang berpuasa dan sebagai seorang muslim untuk tetap beribadah dirumah, padahal ketika suasana ramadhan ini justru aktivitas biasanya banyak dilakukan diluar rumah. Namun untuk mengurangi penularan Covid-19 yang lebih besar, beribadah dari rumah sesungguhnya memiliki makna sangat besar, sebagaimana Allah ingin kembali memuliakan manusia dengan hati yang ridha dan diridhai-NYA, apalagi memasuki ramadhan ini menajdi momentum untuk bermuhasabah dan berkontemplasi jauh lebih banyak bersama orang-orang yang dicintai dirumah mulai dari shalat berjamaah, tadarus dan melakukan berbagai amalan baik bersama keluarga, mungkin dengan cara itulah Allah mengembalikan kemulian manusia, karena ajaran islam berkembang dan kuat tentu dimulai dari keluarga. (*) Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















