
Kemudian, lanjut Arif, cacing-cacing tersebut ia jual Rp 25 ribu perliter dan penjualannya pun langsung ke pembeli sehingga tidak lagi ke para tengkulak. Dia mengaku, setiap hari bisa panen sebanyak 50 liter. Jika diakumulasikan, maka penghasilan bisa mencapai Rp 1 juta lebih.
“Awalnya saya baru bisa panen itu sehari baru 5 sampai 10 liter, tapi sekarang alhamdulillah bisa mencapai 50 liter. Kalau dihitung penghasilannya, ya lumayan lah bisa diatas Rp 1 juta. Tapi kalau omset perbulannya belum kami hitung, karena panennya juga baru tiga minggu,” ujar Arif yang juga Ketua Poktan Asyirah di Kelurahan Cikaret itu.
Melihat warganya yang inovatif dan kreatif, Lurah Cikaret, Saepudin mengaku bangga. Di sini, Ia bukan hanya melihat dari segi ekonomisnya saja tetapi dilihat dari kepedulian warga terhadap lingkungan. Sebab, dengan budidaya cacing bisa mengurangi sampah-sampah organik sebagai pakannya.
“Saya bangga ya, apalagi kan sekarang ini lagi buming ikan hias. Jadi para pecinta ikan hias bisa membelinya ke sini. Terus saya juga ngelihat ternyata pakan cacing ini bisa dari sampah-sampah organik,” katanya.
Bahkan, kata dia, budidaya cacing sutra ini akan dijadikan ikon baru yang ada di Cikaret. “Kalau saya lihat, budidaya cacing sutra di Kota Bogor ini baru di sini ya. Jadi, ini bisa menjadi ikon baru di kelurahan Cikaret untuk tingkat Kota Bogor bahkan tingkat nasional,” pungkasnya
. (Heri)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
======================================
====================================