BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Polresta Bogor Kota bersama Pemerintah Kota Bogor melakukan sidak atau inspeksi mendadak ihwal ketersediaan minyak goreng di sejumlah pasar tradisonal yang tersebar di Kota Bogor. Sidak tersebut merupakan instruksi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi.

Dalam instruksinya, Sigit meminta kepada seluruh Kapolda jajaran untuk memastikan ketersediaan minyak goreng untuk masyarakat baik di pasar tradisional maupun pasar modern.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menyebutkan bahwa dalam sidak tersebut pihaknya menurunkan 200 personil gabungan dari TNI, Polri, dan Pemkot Bogor guna memonitor atau mengawasi distribusi minyak goreng di 11 pasar yang ada di Kota Bogor.

“Nantinya, tim ini setiap hari akan memonitor. Sehingga dipastikan distribusi itu bisa sampai kepada para pembeli sesuai dengan aturan, tidak terjadi antrean yang panjang juga tidak menimbulkan juga kericuhan,” tegas Susatyo kepada wartawan, Rabu (16/3/2022).

Berdasarkan pantauan di 11 pasar, sambung Susatyo harga minyak goreng curah masih berada di angka Rp14.000 hingga 16.000 per liter. Meski stok kemasan premium diakuinya mengalami kelangkaan, namun minyak curah masih tersedia.

“Kita kedepan akan terus memonitor hingga menjelang ramadan,” ujar Susatyo.

Sejauh ini, Sustyo mengaku belum menemukan adanya pelanggaran yang signifikan. Namun dengan adanya tim pengawas, pelanggaran itu tidak akan terjadi. Karena fungsi tim pengawas adalah untuk mengimbau kepada para pedagang agar tidak mengambil untung besar serta kuantitas yang dibeli oleh konsumen juga tidak berlebihan.

Di lokasi yang sama, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menuturkan bahwa kegiatan sidak itu sekaligus memastikan tidak ada panic buying atau pembelian secara berlebihan.

“Tadi juga kita temukan yang dijual dengan sistem paket. Jadi minyak kemasan dijual dalam paket, minyak goreng disatukan dengan mi,” kata Bima.

BACA JUGA :  Honda NWF150 2026 Resmi Meluncur, Skuter Retro Canggih dengan Radar dan Dashcam Bawaan

Bima menegaskan, akan terus melakukan pemantauan kondisi minyak goreng di pasar dengan melibatkan seluruh unsur agar tidak terjadi adanya penimbunan minyak. Meski begitu, dirinya mengakui masih ada persoalan di produksinya dan distribusinya.

“Hari ini menunjukkan kelangkaan minyak goreng masih terjadi di pasar tradisional di Bogor. Beberapa pedagang mengaku hanya bisa menjual minyak goreng curah untuk memenuhi kebutuhan pembeli,” ujarnya.

“Yang paling sulit ditemukan adalah minyak kemasan yang datangnya hanya seminggu sekali, itu pun untuk satu kios (pedagang sembako) hanya dua atau tiga kardus atau kotak saja. Yang lebih banyak minyak goreng curah, harganya juga di atas rata-rata sedikit,” Bima menambahkan.

Sementara itu, salah satu pedagang sembako Pasar Bogor, Suranti menyebut hari ini dirinya tidak menjual minyak goreng kemasan lantaran tidak mendapat pasokan dari distributornya. Dalam sepekan, ia hanya boleh membeli minyak sebanyak tiga dus. Namun, ketika dijual, langsung habis dalam dua hari karena pembeli yang sudah menunggu.

“Kalau minyak curah sih nggak sampai nggak ada ya. Kalau minyak kemasan, kosong, memang nggak ada. Seminggu sekali dapat nih (dari distributor), dapat tiga dus, paling dua hari habis. Setelah itu ya kosong lagi, ambil minyak lagi minggu depan,” kata Suranti.

“Sekarang saya jual masih Rp 14 ribu (per kilogram) untuk kemasan, untuk minyak curah Rp 16 ribu,” imbuhnya.

Kelangkaan minyak goreng kemasan masih terjadi di pasar tradisional di Kota Bogor. Para pedagang sembako di pasar tradisional di Kota Bogor mengaku tidak bisa menjual minyak goreng kemasan dalam jumlah banyak karena dibatasi ketika membeli di pihak distributor atau agen besar.

BACA JUGA :  Nilai Anak Menurun? Ini Sikap yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua

“Kalau minyak curah sih nggak sampai nggak ada ya, kalau minyak kemasan kosong, memang nggak ada. Seminggu sekali dapatnya (dari distributor), itu cuma 3 dus. (Dijual) paling 2 hari habis, setelah itu ya kosong lagi. Mau beli harus tunggu minggu depannya lagi, baru bisa beli,” kata pedagang sembako ditemui di Pasar Bogor Suranti, Rabu (16/3/2022).

Suranti mengaku selalu ada warga yang datang untuk membeli minyak kemasan. Namun, mereka kembali pulang karena minyak kemasan tidak tersedia.

“Setiap hari ada yang tanyain minyak yang kemasan, cuma kan barangnya tidak ada, mau gimana. Kadang mereka pulang lagi, mau cari-cari di tempat lain,” kata Suranti.

Pedagang lain, Wati menyebut, tidak sedikit warga yang sengaja datang untuk membeli minyak kemasan dalam jumlah banyak. Namun, Wati menyiasatinya dengan pembelian dalam bentuk paket. Jadi warga tidak bisa memborong minyak goreng di tokonya.

“Sebenarnya sih nggak membatasi ya, jadi kalau saya itu jual minyak goreng itu dipaket sama bihun atau soun, harganya Rp 20 ribu. Jadi nggak bisa beli minyaknya saja, jadi ini biar orang nggak borong banyak, beli banyak buat stok,” kata Wati ditemui di Pasar Bogor.

Wati, yang juga dibatasi ketika membeli minyak goreng kemasan di distributor, mengaku tetap menjual minyak goreng curah. Namun, harga minyak curah yang dijualnya memang melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang sempat ditetapkan pemerintah.

“Kalau minyak curah itu saya jual hari ini 17 ribu. Kemarin minyak curah ada subsidi dijual 14 ribu, tapi mulai hari ini tanggal 16 saya jual 17 ribu, modalnya saja sudah 15,500,” terang Wati. (B. Supriyadi)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================