BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Gedung SMAN 9 Bogor yang terletak di Jalan Kartini No. 1, Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor diketahui memiliki sejarah panjang. Pada zaman kolonial Belanda, lokasi tersebut merupakan Kartini School atau sekolah khusus perempuan bangsawan sekaligus asrama bagi guru dan siswa.
Bangunan yang memiliki dua lantai itu termasuk salah satu Bangunan Cagar Budaya (BCB) di Kota Bogor yang dibangun pada tahun 1914 oleh KartiniFonds (Yayasan Kartini), yakni sebuah yayasan yang dibentuk pada tahun 1912 dan diketuai oleh Conrad Theodore van Deventer di Den Haag, Belanda.

Awalnya KartiniFonds mendirikan Kartini School di Kota Semarang pada tahun 1912, kemudian di Batavia sekarang Jakarta (1914), Buitenzorg atau Bogor (1914), Madiun (1914), Malang (1915), Pekalongan (1916) dan Cirebon (1914).
Berdiri di atas tanah seluas 2.255 meter persegi, bangunan tersebut masih terlihat memiliki arsitektur klasik bergaya Belanda sehingga membuat bangunan Sekolah Kartini itu kelihatan kokoh dan indah.
Sekolah Kartini di Bogor pertama kali dibuka pada tanggal 2 Mei 1915 di sebuah rumah Jalan Panagaran No.19 Bogor, kemudian resmi menempati gedung sekolah di Jalan Kartini pada tahun 1918.
Mengutip dari De Kartini-scholen voor meisjes: het archief van het Kartini-fonds, 1912-1960, Nationaal Archief van Nederland, Den Haag, menyebutkan bahwa Sekolah Kartini adalah salah satu upaya menciptakan peluang bagi perempuan Jawa kelas atas dalam dunia pendidikan serta mewujudkan keinginan RA Kartini dalam emansipasi kaum perempuan.
Sekolah Kartini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jenderal saat itu dan juga Ratu Wilhelmina di Kerajaan Belanda. Pemerintah Belanda menyalurkan bantuan sebesar f23.000 untuk membangun sarana dan prasarana Sekolah Kartini.
Awalnya, Sekolah Kartini hanya diperuntukkan kelompok ningrat dan semua pengajarnya adalah perempuan Belanda dengan masa belajar selama dua tahun. Namun seiring berkembangnya sekolah, maka Sekolah Kartini mulai menerima siswa yang berasal dari kelompok menengah dan masa belajar menjadi tujuh tahun. Hingga pada tahun 1928, perempuan pribumipun bisa mengajar dan menjadi pengurus pada Sekolah Kartini.
RA Kartini Pemicu Inspirasi Para Politik Etis
Keberadaan Sekolah Kartini tidak terlepas dari peranan Jacques Henri Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Minister van Onderwijs, Religie en Industrie (Menteri Pendidikan, Agama dan Industri) Hindia Belanda dan istrinya Rosa Manuela Abendanon Mandri.
Dikutip dari laman Indische Letteren. Jaargang 5 yang ditulis oleh Hanneke Elderhorst-van Hofwegen dikatakan bahwa pada tanggal 8 Agustus 1900, Abendanon melakukan kunjungan ke bupati-bupati Jawa untuk melakukan survai dan penelitian tentang bidang pendidikan. Abendanon tahu begitu sulitnya mengembangkan pendidikan khususnya perempuan di tanah Jawa karena terbentur adat, yakni usia 12 tahun, anak perempuan harus dipingit.
Saat berkunjung di Bupati Jepara, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, Abendanon dan istri bertemu dengan Kartini dan merasa takjub terhadap inovasi yang dilakukan Kartini terhadap perkembangan spiritual dan pendidikan perempuan pribumi, meskipun dalam keadaan dipingit. Sejak saat itu Kartini mulai berkomunikasi melalui surat pada Abendanon dan Rosa.
“Hari itu akan selalu menjadi salah satu yang paling luar biasa dalam hidup kita” tulis Abendanon setelah bertemu dengan Kartini. Abendanon dan Kartini mempunyai pandangan serta perjuangan yang sama, yaitu untuk meyakinkan pemerintahan Belanda bahwa meningkatkan dan memperluas pendidikan untuk anak perempuan di Jawa adalah kebutuhan mutlak.
Setelah Kartini wafat pada tahun 1904 diusia 25 tahun, Abendanon dan istrinya berinisiatif mengumpulkan surat surat yang dikirimkan Kartini kepada sahabat sahabat penanya di Eropa. Surat surat tersebut dikirimkan pada beberapa orang dengan tujuan untuk merebut simpati, salah satunya adalah Conrad Theodore van Deventer, seorang ahli hukum dan tokoh politik etnis di Belanda. Yang dikedian hari Canventer inilah yang menjadi ketua komite KartiniFonds.
Kumpulan surat surat Kartini kemudian dijadikan buku oleh Abendanon yang berjudul “Door Duisternis tot Licht“ artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku tersebut mendapat antusias yang sangat luar biasa dari masyarakat Belanda kala itu, khususnya para politikus etis. Dan donasi serta hasil penjualannya dipergunakan untuk mendanai Kartini School. (*)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















