
BOGOR-TODAY.COM – Sindrom Stockholm atau Stockholm syndrome adalah kondisi ketika terbentuk ikatan psikologis dalam diri para sandera kepada para penyanderanya. Sindrom ini lahir dari serangkaian keadaan yang cukup spesifik, yakni ketimpangan relasi kuasa selama masa penyanderaan, penculikan, atau hubungan yang kasar.
Sesuai dengan namanya, sindrom ini diambil dari kejadian perampokan Sveriges Kreditbank di Stockholm, Swedia pada tahun 1973.
Kondisi itu membuat mereka tidak melarikan diri ketika diberi kesempatan. Mereka bahkan mungkin mencoba mencegah penculiknya menghadapi konsekuensi atau hukuman atas tindakannya.
Bicara tentang Stockholm syndrome, ada beberapa fakta yang perlu diketahui mengenai sindrom ini, yaitu:
1.Berasal dari Kota Stockholm di Swedia
Pada tahun 1973, Jan-Erik Olsson, seorang mantan narapidana menyandera empat karyawan, tiga wanita dan satu pria Kreditbanken, salah satu bank terbesar di Stockholm, Swedia. Penyanderaan tersebut terjadi ketika ia merampok bank tersebut meski perampokan itu akhirnya gagal.

Pada awalnya bernegosiasi dengan salah seorang temannya di penjara yang bernama Clark Olofsson untuk membantunya, yang akhirnya membuat Clark Olofsson keluar dari penjara.
Mereka menahan para sandera selama enam hari (23–28 Agustus) di salah satu brankas bank. Ketika para sandera dibebaskan, tidak satu pun dari mereka yang berusaha untuk menuntut para penculik di pengadilan.
Hal yang sebaliknya malah terjadi, mereka mulai mengumpulkan uang untuk membela para penculik tersebut.
Selama periode ini, sebagian besar karyawan bank yang disandera menjadi sangat simpatik terhadap para perampok. Bahkan setelah dibebaskan, para sandera menolak untuk meninggalkan penculiknya dan kemudian membela mereka.
Mereka juga menolak bersaksi di pengadilan melawan para perampok dan bahkan membantu mengumpulkan uang untuk membela mereka.
Kriminolog dan psikiater yang menyelidiki peristiwa tersebut menyebut kondisi mereka sebagai Stockholm syndrome. Karena menjadi jelas bahwa karyawan bank yang jadi sandera telah mengembangkan semacam kasih sayang terhadap orang-orang yang menahan mereka.
Strategi Bertahan Hidup yang Delusif
Stockholm syndrome adalah kondisi yang tidak jelas penyebabnya. Namun, menurut studi pada 2015 di International Journal of Advanced Research, sindrom ini disebut sebagai strategi bertahan hidup yang delusif.
Ketika penyelidik FBI mewawancarai pramugari yang disandera selama pembajakan pesawat, mereka menyimpulkan bahwa ada 3 faktor yang diperlukan untuk mengembangkan stockholm syndrome, yaitu:
Situasi krisis harus berlangsung selama beberapa hari atau lebih.
Para penyandera harus tetap berhubungan dekat dengan para korban (korban tidak dapat ditempatkan di ruangan terpisah).
Para penyandera harus menunjukkan kebaikan kepada para korban atau setidaknya menahan diri untuk tidak menyakiti mereka.
Para peneliti dalam studi tersebut juga mengungkapkan bahwa sindrom ini dapat dikaitkan kembali dengan nenek moyang pemburu-pengumpul di masa lalu. Teori mereka adalah bahwa perempuan dalam masyarakat tersebut menghadapi risiko ditangkap oleh suku lain.
Nyawa mereka sering terancam, dan terkadang anak-anak mereka terbunuh. Mengembangkan ikatan dengan suku yang menahan mereka dapat memastikan kelangsungan hidup mereka.
Menariknya, bagaimanapun korban yang mengembangkan sindrom ini sering kali kemudian menolak untuk bekerja sama selama penyelidikan berikutnya atau selama persidangan hukum.
- Gejalanya Mirip PTSD

Orang dengan Stockholm syndrome sering melaporkan gejala yang mirip dengan gangguan stres pasca trauma atau PTSD. Gejalanya mungkin termasuk:
- Mudah terkejut.
- Ketidakpercayaan.
- Perasaan tidak nyata.
- Kilas balik.
- Ketidakmampuan untuk menikmati pengalaman yang sebelumnya menyenangkan.
- Mudah marah.
- Sering mimpi buruk.
- Sulit berkonsentrasi.
Pernah Ditemukan Kasus antara Atlet dan Pelatih
Stockholm syndrome sebagian besar digunakan untuk menggambarkan situasi penyanderaan atau penculikan. Namun, sebuah studi pada 2018 di jurnal Children Australia menunjukkan bahwa sindrom ini juga dapat ditemukan dalam olahraga.
Para peneliti menegaskan bahwa pelatih atletik yang kasar dapat mengorbankan atlet muda dengan cara yang menciptakan Stockholm syndrome.
Atlet mungkin tahan dengan pelecehan emosional dan tunduk pada latihan yang menyakitkan atau kondisi ekstrem, dengan meyakinkan diri mereka sendiri bahwa pelatih mereka menginginkan yang terbaik untuk mereka.
Mereka mungkin juga bersimpati dengan kerja keras yang harus dilakukan pelatih mereka. Inilah yang membuat mereka akhirnya memaafkan perlakuan buruk dengan meyakinkan diri mereka sendiri bahwa pelecehan itu adalah bentuk pelatihan yang baik. (*)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















