Prancis Mulai Main Mata Dengan China, Apakabar NATO CS?

Prancis Mulai Main Mata Dengan China
Marcon dijadwalkan tiba di China pada Rabu untuk kunjungan selama tiga hari, ini sinyal bahwa Prancis mulai main mata dengan China (FOTO : TANGKAPAN LAYAR)

BOGOR-TODAY.COM – Presiden Prancis, Emmanuel Macron dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dikabarkan akan menemui Xi Jinping, rupanya Prancis mulai main mata dengan China.

Rencananya, Marcon dijadwalkan tiba di China pada hari Rabu untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari, tentunya ini sinyal bahwa Prancis mulai main mata dengan China.

Agar tidak terlalu mencolok bahwa Prancis mulai main mata dengan China, Macron didampingi oleh delegasi lebih dari 50 CEO dan bertemu dengan komunitas bisnis Prancis.

Alasannya, mebahas perang di Ukraina dengan kepemimpinan China, padahal Prancis mulai main mata dengan China.

“Masalah utama yang mungkin ingin didorong oleh Macron dan von der Leyen adalah untuk membantu mendapatkan dukungan dari China dalam berurusan dengan Rusia,” kata Zsuzsa Anna Ferenczy, peneliti di Institut Keamanan Swedia.

“Secara realistis, saya rasa kita tidak bisa berharap banyak, tapi saya pikir jelas semua orang setuju bahwa itulah prioritasnya,” imbuhnya.

China secara resmi netral dalam perang tetapi telah menopang Rusia secara ekonomi dan diplomatik dalam menghadapi sanksi Barat.

BACA JUGA :  Inspektorat Kabupaten Bogor Tunggu Kabar Polres soal Dugaan Jual Beli Jabatan

Xi Jinping juga memiliki telinga Presiden Rusia Vladimir Putin, dengan siapa ia berbagi persahabatan dekat selama lebih dari satu dekade. Pada bulan Maret.

Keduanya menandatangani kemitraan strategis China-Rusia selama kunjungan kenegaraan Xi ke Moskow.

Pada KTT G20 pada November, Macron menyerukan China untuk memainkan peran mediasi yang lebih besar dalam perang tersebut.

Tetapi Beijing belum memajukan perannya selain mengeluarkan rencana perdamaian 12 poin yang telah menerima tanggapan hangat di Kyiv dan ibu kota Barat.

Perjalanan Macron adalah yang pertama ke China sejak pandemi COVID-19 meletus pada awal 2020, ketika Beijing secara efektif menutup perbatasannya untuk bepergian.

Pemimpin Prancis terakhir mengunjungi negara itu pada 2019, sebelum kemudian Prancis mulai main mata dengan China.

Perjalanannya mengikuti perjalanan yang dilakukan oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz pada bulan November tetapi dengan nada yang berbeda.

Perjalanan Scholz dikritik secara luas di Eropa sebagai terlalu berdamai dengan Beijing, dengan upaya pemimpin Jerman untuk menopang kepentingan bisnis negara.

BACA JUGA :  Lahir dari Tempat Sederhana, Unitex Judo Club Bogor Terbukti Cetak Juara Dunia

Hal itu lebih diutamakan daripada mendorong China untuk bergabung dengan meja perundingan atas Ukraina.

Macron dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden sepakat dalam panggilan telepon menjelang perjalanan pemimpin Prancis itu untuk melibatkan China guna mempercepat akhir perang di Ukraina.

“Kedua pemimpin telah menyebutkan kesediaan bersama untuk melibatkan China guna mempercepat akhir perang di Ukraina dan mengambil bagian dalam membangun perdamaian berkelanjutan di kawasan itu,” kata kantor Macron dalam sebuah pernyataan.

Dalam pidatonya di Brussel pekan lalu, von der Leyen secara terbuka mengkritik hubungan tanpa batas Beijing dengan Moskow dalam menghadapi invasi Ukraina yang mengerikan dan ilegal.

“Rencana perdamaian apa pun yang akan mengkonsolidasikan aneksasi Rusia sama sekali bukan rencana yang layak. Kita harus berterus terang tentang hal ini,” kata von der Leyen.

“Bagaimana China terus berinteraksi dengan perang Putin akan menjadi faktor penentu hubungan UE-China ke depan,” katanya.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================