
Fatimah (50), pembuat kue Jalabia mengatakan, ia mendapat resep Jalabia turun temurun dari kakek nenek buyutnya kepada orangtuanya hingga sampai kepada dirinya yang saat ini masih meneruskan membuat pesanan kue Jalabia.
Proses pembuatan Jalabia pada umumnya memakan waktu sekitar dua hari.
“Jadi kita bikin adonannya dulu dari ketan putih, ketan hitam, kelapa dan bumbu lainnya, terus pas adonan sudah jadi didiamkan semalam. Besoknya kita rebus gula merah terus digoreng. Kenapa didiamkan semalam biar tekstur dalamnya empuk,” katanya.
Fatimah sendiri tidak menjual kue Jalabia, namun ia dan warga sekitar seringkali membuat kue Jalabia ketika mendapatkan pesanan atau ketika ada acara kegiatan di sekitar kampung.
“Jalabia ini dari nenek moyang, dari dulu itu namanya Jalabia. Kalau di sini kue itu adanya ketika ada acara aja. Kalau ada acara aja selamatan, syukuran sedekahan, ada rapat rapat di sini, atau kumpul warga mesti ada itu kue, makanya kita nyambut pak wali juga pake kue ini,” ujarnya.
Fatimah berharap keberadaan kue Jalabia ini bisa terus dilestarikan oleh generasi mendatang.
“Iya karena ini kan khas ya, jadi harus ada juga yang bisa bikin dan juga harus dilestarikan,” harapnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















