
BOGOR-TODAY.COM – Dongkrak kesadaran literasi masyarakat, Komunitas Literasi Nusantara (KLN) menggelar audiensi bersama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) di gedung Kemendikbud Ristek, Rabu 26 Juli 2023.
Koordinator Nasional KLN, Ferdinandus Wali Ate mengungkapkan tujuan adanya kolaborasi bersama Dirjen Dikti Kemendikbud Ristek adalah untuk meminta dukungan terkait pendidikan dan kebudayaan di Indonesia yang sangat luar biasa.
Bersamaan dengan itu, KLN juga ingin mengenal lebih dekat Dirjen Dikti Kemendikbud Ristek, Prof. Ir. Nizam, M.,SC. DIC.,IPU, Asean Eng.
“Dalam hal itu, kami ingin menumbuhkan silahturahmi dengan guru-guru di sekolah untuk melakukan transformasi pendidikan di era industri 4.0,” ungkap Ferdinandus dalam keterangan tertulisnya, Kamis 27 Juli 2023.
Ferdinandus membeberkan bahwa KLN memiliki tiga pilar penting, yakni, pertama berkolaborasi dengan pemerintah lembaga literasi, kedua peningkatan intensif bagi guru-guru lalu ketiga melakukan akselerasi PPG bagi para tenaga pendidik (guru).
“Bagaimana kita menjadi agen of change bagi guru-guru, KLN akan bekerjasama dengan pemerintah untuk memberikan pencerahan baik melalui website maupun media yang kita berikan dengan memanfaatkan program pemerintah untuk meningkatkan kemampuan guru, bagaimana guru melakukan High Order Thinking Skill atau Program From Based Learning,” beber Ferdinandus.
Selain itu, sambung Ferdinandus juga mendorong untuk meningkatkan keterampilan literasi siswa dengan mempercepat akselerasi dalam pemahaman literasi, membangun dan menyebarluaskan literasi di lingkungan pendidikan.

Dirjen Dikti Kemendikbud Ristek Prof. Ir. Nizam, M.,SC. DIC.,IPU, Asean Eng. Mengapresasi langkah KLN yang telah melakukan pencapaian sosial lingkungan di masyarakat untuk mendorong advokasi kesadaran literasi.
Menurutnya, merdeka belajar yang diterapkan saat ini tentunya harus dimulai dari PAUD, namun, di PAUD pendidikan yang diajarkan bukan menghitung maupun menulis, melainkan permainan pendidikan yang dapat menyenangkan anak-anak, sehingga akan tumbuh pemahaman anak-anak bahwa sekolah itu menyenangkan.
“Penekanan bagaimana pentingnya High Order Thinking Skill (HOTS), sehingga kemampuan bernalar dan memahami logika dapat digunakan dalam sekolah. Akan tetapi, memang menjadi kenyataan yang memilukan, bahwa distribusi guru-guru di daerah terpencil seperti di NTT tidak merata. Kebijakan standar dari pusat sudah ada, namun yang perlu ditekankan adalah advokasi terhadap tingkat daerah yang memang jarang terjamah,” tutur Prof. Ir. Nizam.
“Sudah ada platform merdeka mengajar. Namun, masih banyak yang belum memahami teknis pelaksanaannya. Sehingga pemerintah juga membutuhkan bantuan masyarakat berkaitan dengan hal ini,” Prof. Ir. Nizam menambahkan.
Masih dalam keterangannya, berkaitan dengan merdeka belajar di perguruan tinggi, pemerintah dalam tahun kemarin sudah mengirimkan kurang lebih 12.000 mahasiswa untuk ditempatkan di sekolah-sekolah dengan tingkat literasi rendah. Hasilnya, program ini meningkatkan literasi lima bulan lebih tinggi atau cepat dibandingkan sekolah-sekolah lain.
“Yang menjadi masalah dalam pendidikan juga adalah APBD maupun APBN yang harusnya dialokasikan untuk guru-guru namun tidak semua dana diterima oleh mereka,” katanya.
Dengan demikian, ia meminta kepada pemerintah untuk mendukung penuh gerakan-gerakan literasi yang ada di masyarakat dengan cara bahu membahu meningkatkan literasi dan pendidikan di Indonesia.
Di tempat yang sama, tim KLN, Karmila Floriani Daro mendorong pentingnya memperdayakan program pemerintah untuk berkolaborasi dengan lembaga-lembaga swasta literasi untuk memajukan kemampuan guru.
Sementara itu, tim isu dan media visual KLN, Atanasius Vitys Putra Mone mengaku bahwa dengan adanya komunitas literasi nusantara yang dikembangkan marupakan bentuk kepedulian kepada masyarakat yang mengalami krisis literasi. Dalam hal ini, kurikulum merdeka belajar.
Menurutnya, masih banyak guru maupun siswa yang belum memahami konsep utama dari kurikulum tersebut.
Tim KLN literasi, Adriana Kofi mengungkapkan bahwa literasi sesuatu yang kurang menarik bagi generasi saat ini, sehingga kemampuan membaca dan menulis menjadi berkurang. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















