Ketika film bersuara mulai muncul pada tahun 1927, industri bioskop membuka diri untuk menggaet penonton yang lebih luas.

Semua orang bisa menonton film, bukan hanya mereka yang melek huruf saja seperti yang terjadi ketika tontonan masih terbatas film bisu. Pada 1930, jumlah penonton bioskop bahkan bisa mencapai 90 juta per minggu.

Seiring dengan perkembangan tersebut, akhirnya bioskop mulai mempertimbangkan untuk menghadirkan jajanan ke dalam gedung teater.

Penerimaan bioskop akan kehadiran popcorn terjadi pada masa ‘great depression’. Masa ini menandai penurunan tingkat ekonomi di seluruh dunia yang dimulai pada 1929. Depresi menggerus perekonomian negara industri maupun berkembang.

BACA JUGA :  Satu Rumah Ludes Terbakar di Ciampea, Tidak Ada Korban Jiwa

Pada masa itu, banyak orang kesulitan mencari hiburan murah untuk mengalihkan perhatian mereka dari masa sulit. Akhirnya, para penjual popcorn memanfaatkan situasi dengan berjualan di depan bioskop dengan harga murah.

Lama-kelamaan, bioskop melihat penjualan makanan bisa turut menopang kebutuhan operasional mereka. Sebab, pada pertengahan tahun 1930-an, bisnis bioskop mulai bangkrut.

Terbukti, pihak bioskop yang menjajakan makanan selamat dari kebangkrutan bahkan mendulang keuntungan.

“Namun itu dimulai dengan menyediakan popcorn dan makanan ringan lain [untuk bertahan],” kata Smith.

Kehadiran popcorn dan bioskop makin kuat saat Perang Dunia II. Makanan ringan ini menjadi pengganti permen dan soda ketika Filipina sebagai eksportir gula tak lagi bisa memasok gula ke Amerika Serikat.

BACA JUGA :  Charger Ponsel Dibiarkan Tercolok Terus di Stopkontak, Amankah? Ini Penjelasannya

Pada 1945, popcorn dan film seakan tidak bisa terpisahkan. Lebih dari separuh popcorn yang dikonsumsi di Amerika dinikmati saat sedang menonton film di bioskop.

Sejak saat itu, bioskop pun mulai gencar memasang iklan agar orang-orang yang datang ke gedung teater tertarik untuk membeli jajanan.

Namun, kebersamaan popcorn dan bioskop tak selalu berjalan mulus. Popularitasnya sempat menurun lantaran kemajuan teknologi. Kemunculan televisi pada era 1960-an membuat semakin sedikit orang yang bertandang ke bioskop. ***

Sumber : hypeabis.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================