BOGOR-TODAY.COM –Viral di medsos, guru SMK Muhammadiyah 2 Cileungsi, Kabupaten Bogor dilaporkan menampar lima siswa setelah mereka menyelesaikan salat zuhur. Camat Cileungsi, Adhi Nugraha, menyatakan kekecewaannya atas insiden ini.

Sebanyak lima siswa di SMK Muhammadiyah 2 Cileungsi, Kabupaten Bogor, dituduh menjadi korban penamparan oleh seorang guru yang disebut sebagai SY.

Akibat tindakan penamparan ini, sebuah video berdurasi 15 detik menjadi viral di media sosial, yang menciptakan kehebohan di kalangan masyarakat.

Camat Cileungsi, Adhi Nugraha, mengonfirmasi bahwa insiden ini melibatkan seorang guru SMK Muhammadiyah 2 Cileungsi yang menampar lima muridnya.

“Iya, kabar tentang insiden itu benar adanya. Dan kami mengimbau pihak sekolah untuk tidak menggunakan kekerasan terhadap anak-anak,” ujarnya.

BACA JUGA :  7 Jenis Ikan yang Aman Dikonsumsi Penderita Kolesterol Tinggi

Guru berinisial SY mengakui bahwa tindakan viral ini terjadi di dalam masjid SMK 2 Muhammadiyah selama salat zuhur pada hari Kamis (5/10/2023).

“Iya, saya yang melakukannya. Ada sekitar 4-5 orang siswa, dan itu terjadi di masjid selama salat zuhur pada hari Kamis kemarin,” katanya.

Namun, dia menegaskan bahwa tindakannya bukanlah pemukulan. Dia mengklaim bahwa itu adalah upaya pendidikan terhadap siswa-siswanya di SMK Muhammadiyah 2.

“Sebenarnya, itu bukanlah pemukulan, tetapi lebih ke pendidikan kepada anak-anak karena saat itu mereka sedang salat, namun berperilaku kurang sopan, seperti bercanda, tendang-tendangan, bahkan dorong-dorongan,” dia menjelaskan.

Karena itu, dia memberikan peringatan kepada empat siswa tersebut sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh SMK Muhammadiyah 2 untuk membimbing para siswa.

BACA JUGA :  7 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Disadari Bisa Menghambat Kemandirian Anak

“Peraturan ini sudah ada dan kami mengingatkan bahwa salat harus dihormati dan tidak boleh diabaikan karena itu adalah ibadah agama. Kami juga mengingatkan mereka untuk tidak mengulangi perilaku serupa,” tegasnya.

SY juga menolak tuduhan bahwa tindakannya merupakan kekerasan terhadap anak setelah video penamparannya menjadi viral di media sosial.

“Kita harus mencari pemahaman terlebih dahulu dan mencari informasi yang benar, karena jika tidak, itu bisa menjadi fitnah. Dengan mencari pemahaman yang benar, kami berusaha untuk mendidik anak-anak agar menjadi lebih baik,” katanya. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================