
Kedua, lanjutnya yakni transportasi. Dinas Perhubungan (Dishub) harus menjangkau wilayah ini. Mulai dari rerouting angkot dan rute Biskita agar semuanya bisa terlayani sampai pelosok. Ketiga yakni air bersih. Ia ingin kualitas sambungan air bersih sama dengan yang ada di pusat kota.
“Keempat yakni tata ruang kota yang masih sporadis. Ada bengkel sebelahnya rumah, sebelahnya minimarket terus restoran dan lainnya, ini tidak beres. Tata ruang ini harus diatur kalau tidak diatur akan sporadis dan semrawut,” tegasnya.
Ia menerangkan, 10 tahun lalu ia memproyeksikan Kecamatan Tansa ini sebagai wajah Metropolitan Kota Bogor. Bogor tidak akan pernah jadi kota metropolitan, tapi sisi metropolitan yang mendekati ada di Tansa. Dengan flyover Sholeh Iskandar yang membelah jalan, kiri kanan memiliki prospek untuk menjadi ruas jalan seperti di Kasablanka di Jakarta.
“Tapi kita lihat kiri kanan belum diatur pertokoannya. Saya kira Perwali bisa mengatur itu, pedestrian juga belum sampai ke sana, jadi susah buat menyebrang. Ini kalau ditata akan luar biasa, bisa jadi wajah Metropolitan sekaligus membangkitkan ekonomi,” jelasnya.
Hal terakhir, Kecamatan Tansa ini memiliki warga yang beragam yang membuat kawasan ini terancam tidak memiliki karakter dan kebersamaan. Karena itu ia memberikan saran agar setiap perencanaan dipikirkan ruang bersama untuk berkumpul, seperti balai warga, ruang bermain ramah anak atau ruang-ruang yang bisa menyatukan warga untuk membangun kebersamaan.
“Saya juga titip sekolah satu atap agar selalu diobservasi dan dievaluasi karena ini eksperimen dari penggabungan sekolah SD dan SMP. Pastikan anak-anak bisa sekolah dengan nyaman dan terhindar dari kekhawatiran,” ucapnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















