Refleksi Milad HMI 77 Jadi Insan Paripurna atau Insan Pencidera

Berat memang kapal himpunan ini berlabuh, godaan untuk hidup hedonis, ingin terus dipertuankan, merasa diri elite sudah saatnya dijadikan “cencelled culture” di himpunan itu (zulfata dalam buku bubarkan HMI).

Jika tidak di jadikan itu maka pertaruhannya adalah kerusakan generasi yang perlahan-lahan akan menghilangkan spirit altruisme atau jiwa kepahlawanan dalam menjaga keadaban dan menghantam segala kemungkaran.

Dalam konteks ini pula terkadang kita lupa, jeritan dan teriakan yang selama ini dituntut dijalanan adalah buah dari perilaku himpunan itu sendiri, generasi yang tidak amanah, generasi yang mematikan mata hati ketika hendak membangun komitmen keislaman dan keindonesiaan yang progresif.

BACA JUGA :  Resep Tahu Walik Aci Renyah di Luar, Kenyal di Dalam, Cocok untuk Camilan Rumahan

Atas realitas HMI  seperti ini, masihkah kita menyangkal bahwa kita adalah organisasi yang benar-benar memproduksi oligarki secara penuh suka cita di hadapan rakyat dan bangsa?

HMI sejatinya memiliki cita-cita besar bertugas untuk mencetak para pemimpin, kaum intelektual, para  teknokrat dan para ideolog masa depan. Maka HMI tidak boleh diintervensi oleh kepentingan apapun, tidak boleh diintervensi oleh alumni yang memiliki jabatan sebesar apapun. Peran alumni hanya mensuporting, alumni tidak boleh mengintervensi kemerdekaan melakukan pengkaderan. Maka wajah HMI bukan wajah KAHMI, HMI bukan wajah negara, tetapi HMI adalah wajah idealisme, HMI wajah ideologis.***

BACA JUGA :  Gandeng Jakarta Bartender Club, STP Bogor Gelar 'Signature Session 2026' untuk Kupas Seni di Balik Bar

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================