Ikatan Pemulung Keluhkan Harga Galon Lebih Rendah dari Plastik PET, Ini Alasannya

Sebelumnya, para mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan kesulitan mereka untuk membuang bekas dari kemasan galon-galon sekali pakai yang mereka gunakan.

Ditemui di kampusnya, seorang mahasiswa UI bernama Vito, mengaku kesulitan untuk membuang bekas galon air minum sekali pakai ini. “Saya bingung membuang sampahnya. Saya terpaksa meletakkannya saja di samping tempat sampah. Meskipun hal itu akan membuat lingkungan kita menjadi kotor,” tutur pria jurusan Hukum yang ngekost di daerah Kukusan, Depok, ini.

Hal senada disampaikan Kansa, mahasiswi jurusan Bisnis Islam UI yang ngekost di daerah Kukusan Teknik UI (Kutek), Depok. “Sebelumnya saya menggunakan galon sekali pakai. Kemudian saya ganti dengan galon guna ulang karena saya bingung membuang bekas galonnya,” tukasnya.

Bayu, mahasiswa Kedokteran IPB, juga mengaku kesulitan membuang bekas galon air minum sekali pakai ke tempat-tempat sampah. “Tempat sampahnya tidak muat, dan anak-anak kost membuangnya saja di luar tong sampah. Itu membuat lingkungan kost menjadi kotor,” ujar pria yang ngekost di daerah Cibanteng, Dramaga, Bogor.

BACA JUGA :  Prabowo Bertemu Menlu Turki di Hambalang, Bahas Timur Tengah hingga Pemulangan Relawan Indonesia

Demikian juga dengan Atika, mahasiswi jurusan Sumber Daya Pengelolaan Perairan IPB yang juga mengaku kesulitan membuang bekas galon sekali pakai. “Tempat sampahnya tidak cukup karena galonnya terlalu besar,” tukas mahasiswi yang juga ngekost di Cibanteng, Dramaga, Bogor ini.

Greenpeace Indonesia juga melihat produk galon sekali pakai bertolak belakang dengan semangat pengurangan sampah yang sebenarnya menjadi target Indonesia untuk bisa mengurangi 70% sampah di laut hingga tahun 2025 mendatang.

Juru kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, melihat keanehan, di mana pada saat pemerintah berusaha untuk menargetkan pengurangan sampah, khususnya sampah plastik, justru ada industri yang malah mengeluarkan produk-produk baru yang berpotensi menimbulkan sampah seperti produk air minum dalam kemasan (AMDK) galon sekali pakai. “Itu kan aneh namanya,” ucapnya.

BACA JUGA :  Hilang Kendali, Truk Boks Hantam Tiang dan Motor di Bogor

Menurut Atha, industri yang memproduksi galon sekali pakai itu jangan hanya melihat dari sisi botolnya saja yang berbahan PET, yang kemudian diklaim bisa didaur ulang dan menjadi salah satu jenis plastik yang tinggi yang dicari oleh para pemulung, tapi mereka juga harus melihat label dan tutupnya yang ternyata berpotensi menjadi sampah. “Jadi, keberadaan produk AMDK galon sekal pakai ini bukan progres yang baik untuk pengurangan sampah di Indonesia,” ungkapnya.

Ia khawatir, jika masyarakat nantinya beralih dan menjadi terbiasa dengan kemasan galon sekali pakai ini, guna ulang yang ramah lingkungan malah ditinggalkan. “Saya membayangkan betapa tingginya potensi sampah di Indonesia. Belum ada galon sekali pakai saja kita sudah menghasilkan sampah yang tinggi, Apalagi ditambah sampah dari galon sekali pakai ini,” kata Atha.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================