
“Alhamdulillah, ada banyak masukan baik mengenai persoalan beserta solusinya, kemudian ide dan gagasan yang banyak disampaikan dalam diskusi,” ucapnya.
Ernan melanjutkan, pembahasan diskusi ini menjadi penting karena berdasarkan data BPS, penduduk perkotaan di Indonesia pada tahun 2020 sudah mencapai 56,7%. Statista (2024) memperkirakan pada tahun 2023 telah mencapai 58,6%, dan Bappenas memproyeksikan pada tahun 2045 akan mencapai 72,8%.
Hal ini berimplikasi besar pada perencanaan tata ruang dan pembangunan fasilitas, infrastruktur, serta ruang-ruang publik perkotaan yang memadai.
Salah satu masalah pembangunan perkotaan adalah ketidaktepatan alokasi pembiayaan pembangunan yang tidak proporsional secara kewilayahan, serta ke depannya pembiayaan pembangunan perkotaan tidak lagi dapat mengandalkan pinjaman lunak.
Sehingga, lanjutnya, dengan adanya diskusi ini merupakan wadah untuk memfasilitasi diskusi, merekam aspirasi, dan gagasan dengan tujuan untuk mendapatkan pemikiran serta gagasan terkait pemecahan masalah isu-isu penataan ruang dan perkotaan.
Diskusi ini juga menghasilkan konsep pengembangan penataan ruang dan perkotaan yang dapat mengantisipasi permasalahan tata ruang dan perkotaan, perubahan teknologi, dan sistem informasi guna mewujudkan peradaban kota yang berkelanjutan.
“Selanjutnya adalah menyusun rekomendasi sistem tata ruang dan perkotaan termasuk aspek kelembagaan perkotaan, merencanakan penulisan buku yang diperuntukkan bagi masyarakat umum dan pengambil kebijakan,” ujarnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















