
Kakawin Bharatayuddha menggambarkan Pulau Jawa sebagai tanah subur yang indah, namun dilanda kesedihan akibat kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang jahat. Raja-raja yang sebelumnya memerintah dianggap tidak mampu menjaga keamanan, sehingga keindahan negeri itu sirna. Dalam konteks ini, musuh yang merusak adalah para penguasa Janggala, yang dipandang sebagai ancaman bagi kedamaian Panjalu.
Dengan kedatangan Bhatara Wisnu yang menitis ke dalam diri Raja Jayabaya, ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Ada kemiripan yang mencolok antara konflik dalam Bharatayuddha dan peperangan antara Panjalu dan Janggala.
Dari sudut pandang Panjalu, raja-raja Janggala diidentikkan dengan Kurawa, yang harus ditumpas demi mengembalikan kesejahteraan. Meski Pandawa dan Kurawa adalah saudara, demikian pula halnya dengan raja-raja Janggala dan Panjalu yang berasal dari keturunan yang sama, Raja Airlangga.
Kisah Raja Jayabaya menjadi simbol harapan dan perjuangan, di mana ia tidak hanya dianggap sebagai raja, tetapi juga sebagai titisan dewa yang membawa perubahan bagi rakyatnya. Melalui berbagai kisah dan prasasti, warisan Jayabaya terus hidup dalam ingatan budaya dan sejarah Jawa, mencerminkan perjuangan melawan ketidakadilan dan pencarian akan kesejahteraan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















