Usulan Pemberian Gelar Pahlawan kepada Soeharto dan Gusdur, Ini Kata Tinton Soeprapto

Ketua YAPETA, Tinton Soeprapto saat mengunjungi Museum & Monumen PETA, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bogor, pada Minggu (10/11/2024). (Foto: Bogortoday.com)

BOGORTODAY.COM – Yayasan Pembela Tanah Air (YAPETA) menyatakan dukungannya terhadap usulan resmi soal Ketetapan (TAP) MPR RI untuk memberikan gelar pahlawan kepada Presiden RI kedua, Soeharto, dan mantan Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

YAPETA sendiri merupakan wadah yang menaungi para mantan tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan generasi penerusnya, yang terus memperjuangkan nilai-nilai kepahlawanan dan semangat nasionalisme.

Sebagai cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), PETA berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam momen memperingati Hari Pahlawan ini, YAPETA ingin menyampaikan pentingnya menghormati jasa para pahlawan, baik yang telah dianugerahi gelar resmi maupun yang belum, seperti Soeharto dan Gus Dur.

Hal itu disampaikan Ketua YAPETA, Tinton Soeprapto usai mengunjungi Museum & Monumen PETA di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bogor, pada Minggu (10/11/2024).

Tinton yang juga Owner Lorin Sentul Hotel mengungkapkan, bahwasanya ia berada di Museum PETA ini atas izin restu dari mantan Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang telah membuat keputusan soal Ketetapan (TAP) MPR Nomor Xl/MPR/1998 soal eksplisit menyebut nama Presiden RI Soeharto.

“Saya berterimakasih kepada Pak Bamsoet yang sudah memecahkan telor TAP MPR yang mana TAP MPR itu dari Bungkarno, Soeharto dan Gusdur dicabut juga sudah bersih sampai Megawati dan Guntur juga hadir,” ujar Tinton kepada Bogortoday.com di Museum PETA.

BACA JUGA :  Manfaat Chili Oil untuk Kesehatan, Lebih dari Sekadar Bumbu Pedas Favorit

“Tap MPR Pak Soeharto sudah diputihkan, berarti Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) berhenti dengan sendirinya, dihadiri Bu Tutut dan Titiek. Bukan kita mau cari muka, karena saya Ketua YAPETA yang menghormati jasa orangtua kawan saya terdahulu,” tambahnya.

Menurut Tinton, kedua tokoh ini telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia dan layak mendapatkan penghormatan sebagai pahlawan nasional.

Tinton menegaskan bahwa peringatan Hari Pahlawan kali ini merupakan momen yang sangat tepat untuk merenungkan kembali jasa-jasa para pahlawan dan tokoh bangsa yang telah berkontribusi besar terhadap kemerdekaan serta pembangunan Indonesia.

Tinton menjelaskan bahwa selama masa kepemimpinan Soeharto, banyak pembangunan strategis yang telah dilakukan yang berdampak langsung pada kemajuan bangsa.

“Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan. Kontribusinya sangat besar, tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga oleh bangsa asing. Kita harus melihat ke depan, melupakan masa lalu yang penuh pelajaran, dan menghargai apa yang telah beliau lakukan untuk negara ini,” jelas Tinton.

Meskipun masa kepemimpinan Soeharto tidak lepas dari kontroversi, namun kontribusinya terhadap pembangunan Indonesia tidak bisa diabaikan. Selain Soeharto, Tinton juga mendukung usulan pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur, yang dikenal sebagai tokoh pluralisme dan perdamaian.

BACA JUGA :  Disdik Kabupaten Bogor Minta Sekolah Tak Pungut Iuran Perpisahan dan Study Tour

“Setiap pemimpin pasti punya kekurangan, tetapi kita tidak bisa mengabaikan jasa besar Soeharto dalam membangun Indonesia. Ini adalah bagian dari sejarah yang harus kita akui dan hargai,” tegasnya.

“Gus Dur adalah sosok yang sangat dihormati, tidak hanya oleh umat Islam tetapi oleh seluruh rakyat Indonesia. Dedikasinya terhadap demokrasi, keadilan, dan keberagaman patut dihargai. Beliau juga layak mendapatkan gelar pahlawan nasional,” imbuhnya.

Tinton Soeprapto berharap bahwa usulan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto dan Gus Dur bisa segera terealisasi.

“Kami dari YAPETA, yang merupakan bagian dari sejarah TNI, akan terus mendukung langkah ini. Ini adalah bentuk penghormatan kita kepada para tokoh yang telah berjuang dan membangun negeri ini,” ungkap Tinton.

Hal senada dikatakan tokoh generasi penerus para pendiri PETA, termasuk sejarawan Rusdhi Husen yang turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya mengenang perjuangan PETA dan kontribusinya terhadap pembentukan TNI.

“PETA adalah cikal bakal TNI, dan banyak tokoh PETA yang akhirnya menjadi pahlawan nasional, seperti Soekarno, Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, Soepriyadi, dan tentu saja Soeharto. Mengusulkan gelar pahlawan bagi Soeharto adalah langkah yang tepat untuk menghargai kontribusi besar beliau terhadap bangsa ini,” pungkas Rushdi.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================