Calon Wakil Bupati Bogor Jaro Ade : Kedepan Pengelolaan Sampah Harus Berbasis Teknologi dan Punya Nilai Ekonomi

“Fasilitas pengomposan tersebut mampu menghasilkan kompos sekitar 20 ton per hari. Hanya saja untuk setiap satu batch proses pengomposan memerlukan waktu sekitar 1.5 –2 bulan sehingga fasilitas pengomposan TPA Galuga tidak menyumbang banyak terhadap pengurangan volume sampah yang dihamparkan pada areal TPA Galuga,” ucapnya.

JARO ADE
FOTO : TIM BRANDING MEDIA CENTER JARO ADE.

Pengurangan cukup berarti justru disumbang oleh para pemulung yang melakukan kegiatan pemilahan di TPA Galuga. Pada saat ini diperkirakan terdapat 1200 orang pemulung yang melakukan kegiatan pemilahan.

Dari sekitar 1.100ton per hari sampah yang masuk ke TPA Galuga sekitar 250 –300 ton per hari sampah yang berupa plastik maupun kertas dapat disisihkan oleh pemulung yang mana hasil pemilahan tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya.

“Pengelolaan sampah adalah membuat sampah memiliki nilai ekonomi atau merubahnya menjadi bahan yang tidak membahayakan lingkungan, dengan pengelolaan sampah rumahan. Namun mirisnya, masyarakat Galga yang bekerja pemiliahan samapah di TPA hanya berpenghasilan Rp 50.000 perhari,” kata Jaro Ade.

BACA JUGA :  BI Rate Naik Jadi 5,75 Persen, Kapan Suku Bunga KPR Ikut Menyesuaikan?

Dia menjelaskan, dalam pengelolaan sampah menjadi nilai ekonomis sebenernya banyak cara selain dengan metode pemilahan juga bisa dijadikan energi alternatif seperi RDfF dan pembangkit listrik tenaga sampah.

“Sedangkan untuk sampah organiknya bisa untuk pupuk atau pakan magot yang nantinya bisa menjadi pakan ternak,” angkapnya.

Semua itu bisa dimulai oleh pemerintah dengan menyusun terlenig dahulu prencanaannya baik DED (Detail Enegering Disain) maupun FS nya.

“Sehingga nanti KDL konvensasi dampang langsungnya terhdap masyarakat bisa diukur dan terlihat lebih awal,” uangkapnya.

Lebih mirisnya lagi, banyak anak usia sekolah yang juga ikut bekerja dalam pemilahan sampah di TPA Galuga, ini terkesan seperti ekploitasi anak, padahal anak-anak tersebut harus lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar bukan menjadi pekerja yang sangat tidak layak di TPA Galuga dengan penghasilan minim.

“Saya menemukan salah satu anak putus sekolah SD bekerja jadi pemulung di TPA Galuga dengan penghasilan yang minim. Saya tidak ingin ini terjadi pada anak-anak Kabupaten Bogor, saya meminta kepada anggota Dewan agar anak tersebut kembali bersekolah,” pinta Jaro Ade.

BACA JUGA :  Jaro Ade Tegaskan Komitmen Pemkab Bogor Perluas Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Rentan

Dia menambahkan, kedepan Pemkab Bogor harus memiliki program mengenai pengelolaan sampah yang lebih canggih dan moder untuk mendaur ulang sampah hingga memiliki nilai ekonomi.

“Sehingga, sampah bukan lagi momok menakutkan bagi lingkungan, namun memiliki nilai ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Forum Masyarakat Galuga, Haji Kamaludin menyambut baik ide gagasan serta rencana Jaro Ade yang akan melalukan perubahan secara total barkaitan dengan pengelolaan sampah di TPA Galuga.

“Sudah bertahun tahun kami hidup berdampingan dengan bau tak sedap dan air yang sudah tercemar, oleh karena itu kami sangat berharap Pemkab Bogor memiliki trobosan yang jitu dan tepat untuk mengatasi permasalah pengolaan sampah di galuga secara jangka panjang,” singkat Haji Kamaludin. ***

llow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================