
Artinya, mereka yang telah bertobat dan meninggalkan perilaku bullying menunjukkan perkembangan otak yang lebih normal.
“Kebanyakan orang yang menunjukkan perilaku antisosial melakukannya terutama pada masa remaja, kemungkinan sebagai akibat dari masa-masa sulit dalam bersosialisasi, dan orang-orang ini tidak menunjukkan perbedaan struktural otak,” tambah Dr. Carlisi.
“Orang-orang ini juga yang umumnya mampu bertobat dan menjadi anggota masyarakat yang berharga.”
Temuan ini membuka wawasan baru mengenai hubungan antara struktur otak dan perilaku antisosial, serta memberikan harapan bagi mereka yang pernah terlibat dalam bullying namun berusaha untuk berubah.
Walaupun penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan fisik dalam otak pelaku bullying, hal tersebut bukan berarti bahwa perubahan tidak mungkin terjadi, terutama bagi mereka yang ingin memperbaiki diri.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















