Tinjau 3 Titik Rawan Banjir di Dua Kecamatan, Hery Antasari Sempurnakan Kolam Retensi atau Embung

Walaupun muka bumi mengalami perubahan, hal tersebut disebabkan oleh bencana, seperti gunung meletus dan sebagainya.

“Sedangkan air itu melintas sesuai dengan jalur yang dilewati sejak ribuan tahun lalu. Tapi akhirnya ada lingkungan binaan, yaitu manusia, yang tinggal di situ, membangun rumah, dan sebagainya, sehingga aliran air alami ini, badan-badan air alami ini, mengecil, menyempit, terjadi sedimentasi,” jelas Hery.

Ditambah lagi, perubahan tata guna lahan di hulunya menyebabkan air banyak langsung masuk ke saluran tanpa sempat meresap di hulu, sehingga meningkatkan debit air.

BACA JUGA :  Tips Aman Traveling Saat Hamil, Ini Hal yang Perlu Diperhatikan Calon Ibu

Jadi, menurut Hery, gabungan antara cuaca ekstrem, debit air yang meningkat, badan air yang kapasitasnya terbatas, dan budaya masyarakat yang mungkin ikut berkontribusi—seperti perilaku buang sampah sembarangan—menyebabkan badan air tidak bisa menampung debit air, terutama ketika masuk cuaca ekstrem.

Solusi jangka menengah dan panjang untuk mengatasi banjir, disampaikan Hery, adalah normalisasi saluran, membuat embung, atau dengan upaya menata kembali sempadan sungai.

BACA JUGA :  Tidur di Kamar Dingin Setiap Malam, Ini yang Terjadi pada Tubuh Anda

“Kalau untuk penataan sempadan sungai, membuat embung, atau kolam retensi, ya harus ada lahan yang dibebaskan,” ujarnya.

Sekedar informasi, setelah meninjau tiga titik lokasi tersebut, Hery langsung meninjau debit air di Pos Pantau Bendung Katulampa bersama rombongan.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================