Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)
MENARIK apa yang dikatakan oleh Presiden Prabowo Subianto, yaitu meminta para pejabat untuk mengurangi perjalanan ke luar negeri demi penghematan anggaran APBN dan APBD, termasuk melakukan acara seminar hingga rapat di hotel.
Hal itu dikatakan saat di acara Sidang Tanwir dan Resepsi Milad ke 112 Muhammadiyah di Kupang, Rabu (4/12/2024).
Penulis sangat apresiasi dengan kebijakan ini, tapi ingat jangan sampai seperti jaman Jokowi, diawal dilantik Jokowi juga bicara seperti ini, tapi itu hanya berlangsung di tahun pertama, selanjutnya seperti semula, kembali banyak pejabat yang rapat dan seminar di hotel. Terlepas dari itu, kita semua harus memantau, semoga hal ini benar-benar terealisasi.
Ya jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu, jika ada sesuatu yang viral oleh nitizen, maka baru ada reaksi dari pemerintah atau dari yang bersangkutan.
Contohnya kasus pembunuhan Vina Cirebon, kasus bebasnya Gregorius Ronald Tannur yang membunuh pacarnya, terbaru kasus Gus Miftah yang berkata tidak sopan terhadap penjual es teh saat ceramah di Magelang.
Jika dulu Presiden Soeharto mengundurkan diri harus didemo berlarut-larut oleh ribuan mahasiswa sampai menguasai gedung DPR/MPR.
Zaman now hanya dengan jari-jari nitizen, Gus Miftah seorang ulama kondang yang nyentrik, gondrong, dan selalu pakai kaca mata hitam, harus meminta maaf serta mengundurkan diri sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.
Menurut Presiden Prabowo Subianto,”Hitungan kita perjalanan ke luar negeri pejabat-pejabat Indonesia berjumlah sekitar US$ 3 miliar (Rp 47 triliyun). Saya minta dikurangi 50% saja,” katanya.
Ya dana sebesar itu bisa untuk bidang lain yang lebih bermanfaat, maslahat dan produktif. Misal bisa untuk bidang ekonomi yaitu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), atau untuk bidang kesehatan serta bidang pendidikan.
Atau juga bisa untuk mengurangi kaum duafa, wong cilik, gelandangan, dan pengemis yang sekarang banyak terdapat di diperempatan jalan.
Sedang solusi karena pejabat tidak study banding keluar negeri, maka nara sumber luar negeri saja yang diundang ke Indonesia, atau bisa juga via zoom atau online. Jaman digital ini, kita dengan mudah bisa belajar lewat internet.
Sedang jika pejabat ingin ke luar negeri dan menginap di hotel, mangga pakai dana pribadi dong. Kan kesejahteraan dan tunjungan pejabat negara sudah besar bro. Sehingga akan terwujud slogan, Pejabat Hemat, Indonesia Kuat, seperti judul opini ini. Jayalah Indonesiaku.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















