
Dia menekankan perlunya sumber daya kesehatan yang lebih banyak dan intervensi yang lebih efektif, terutama untuk kelompok yang paling berisiko.
Pentingnya Pengujian Dini dan Akses Informasi yang Tepat
Salah satu tantangan terbesar adalah tingginya angka diagnosis terlambat. Di Filipina, satu dari tiga orang yang hidup dengan HIV baru terdiagnosis pada stadium lanjut, seringkali setelah infeksi yang lebih serius, seperti tuberkulosis atau pneumonia. Pada 2023, sekitar 1.700 kematian terkait AIDS terjadi akibat diagnosis yang terlambat.
Padahal, pengobatan seperti profilaksis pra-pajanan dan pasca-pajanan yang tersedia secara gratis di klinik-klinik pemerintah dapat mencegah penularan HIV. Namun, data pemerintah menunjukkan hanya 13% dari populasi berisiko yang mengetahui tentang profilaksis pra-pajanan, dan hanya 60% yang mengetahui bahwa tes HIV gratis.
Menghadapi Stigma dan Misinformasi
Peningkatan infeksi HIV yang cepat di kalangan pemuda juga mencerminkan rendahnya tingkat kesadaran tentang HIV. Banyak kelompok, seperti wanita transgender (TGW) dan pekerja seks wanita (FSW), yang memiliki pengetahuan sangat rendah tentang HIV, dengan angka kesadaran hanya sekitar 30%.
Elena Felix, seorang wanita yang telah hidup dengan HIV selama 30 tahun, mengatakan bahwa stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV masih sangat kuat di Filipina.
Felix, yang kini menjadi pendukung hak-hak pengidap HIV, memimpin Association of Positive Women Advocates Inc. (APWAI) dan berjuang untuk memberantas stigma yang menganggap HIV sebagai hukuman.
“Sangat penting untuk mengubah pola pikir yang menyalahkan korban. HIV bukanlah hukuman mati. Ini adalah penyakit yang dapat dikelola,” ujarnya.
Jalan Masih Panjang
Meski ada kemajuan dalam pengobatan dan peningkatan akses ke layanan kesehatan, jalan masih panjang untuk mengurangi angka infeksi HIV dan menghilangkan stigma yang ada di masyarakat Filipina.
Pemerintah dan organisasi masyarakat sipil terus bekerja untuk memberikan informasi yang akurat, meningkatkan pengujian, dan memastikan bahwa setiap individu yang terinfeksi HIV dapat hidup dengan kualitas hidup yang baik.
Klinika Eastwood menjadi salah satu contoh bahwa kenyamanan dan aksesibilitas dalam pengujian HIV dapat membantu menanggulangi stigma dan mendorong lebih banyak orang untuk melakukan tes dan mendapatkan pengobatan.
Diharapkan, dengan adanya upaya semacam ini, Filipina dapat menurunkan angka infeksi HIV dan memberikan perawatan yang lebih baik bagi orang yang hidup dengan HIV.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















