Bird Strike: Ancaman Tersembunyi di Dunia Penerbangan

Strategi utama untuk mitigasi bird strike dapat melalui manajemen habitat burung yang baik. Idealnya bandara tidak dibangun di lahan yang menjadi habitat burung. Jika sudah telanjur, area di dalam dan sekitar bandara dapat dikelola dengan cara mengurangi atau menghilangkan sumber daya yang menarik burung, seperti makanan, air, atau vegetasi tertentu. Untuk mencegah datangnya burung, pengelola dapat menjaga kebersihan area bandara dan ketinggian rumput yang menjadi habitat utama burung di bandara.

Selain itu, penggunaan alat pengusir burung juga diperlukan. Alat seperti suara predator, laser, atau burung pemangsa terlatih digunakan untuk menjauhkan burung dari area landasan pacu. Pendekatan ini diperkuat dengan pemantauan dan survei populasi burung secara berkala. Informasi tentang pola migrasi atau aktivitas burung lokal digunakan untuk menentukan waktu dan lokasi risiko tertinggi.

Peran teknologi pun tidak kalah penting. Radar dan sistem deteksi real time memungkinkan bandara mendeteksi keberadaan burung di area udara dan mengambil tindakan pencegahan dengan cepat. Sementara itu, kolaborasi dengan ahli biologi juga diperlukan untuk memahami perilaku spesifik spesies burung di sekitar bandara sehingga strategi mitigasi dapat disesuaikan.

BACA JUGA :  Menag Usulkan Tambahan Anggaran Rp 41,89 Triliun untuk Perkuat Layanan Pendidikan dan Keagamaan

Kolaborasi antara pengelola Bandara Internasional Soekarno Hatta dan Burung Indonesia dalam kajian risiko bird strike, misalnya, mengidentifikasi blekok sawah (Ardeola speciosa) dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis) sebagai dua spesies paling berisiko terhadap bird strike. Penilaian ini didasarkan pada perilaku berkelompok, massa tubuh, ketinggian terbang rata-rata, dan tingkat pengendaliannya. Manajemen habitat padang rumput dan semak dilakukan karena area ini menjadi daya tarik utama bagi kedua spesies yang berisiko tinggi tersebut.

Selain tindakan di lapangan, pendidikan dan pelatihan bagi staf bandara dan awak pesawat juga menjadi elemen krusial. Langkah ini dinilai penting guna memastikan semua pihak memahami risiko bird strike dan dapat merespons secara cepat dan tepat jika ancaman terdeteksi.

Pihak maskapai penerbangan juga memiliki tanggung jawab dalam mitigasi bird strike. Maskapai penerbangan dapat memastikan desain pesawat yang lebih tahan terhadap bird strike dan disarankan untuk bersikap proaktif dalam menghadapi risiko satwa liar, seperti menunda lepas landas atau mendarat jika melihat burung di landasan pacu. Akan baik juga jika meninjau skenario serangan burung selama pengarahan pra-penerbangan. Selain itu, awak pesawat sebaiknya merencanakan jarak pendaratan ekstra untuk mengantisipasi sambaran burung yang dapat mempengaruhi penggunaan pembalik dorongan.

BACA JUGA :  Miris! Dinkes Sebut Rata-rata Anak di Kota Bogor Mulai Merokok Sejak Usia 12 Tahun

Bird strike merupakan pengingat bahwa manusia dan burung berbagi ruang yang sama. Sebagai penghuni bumi, burung memiliki peran ekologis yang tidak tergantikan, termasuk dalam menjaga keseimbangan. ekosistem. Karena itu, mitigasi bird strike tidak hanya soal keselamatan penerbangan, tetapi juga melibatkan upaya untuk memastikan kelestarian burung dan habitatnya.

Memposisikan bird strike sebagai isu penting dalam dunia penerbangan merupakan langkah penting untuk menjaga keselamatan penerbangan sekaligus keberlanjutan ekosistem. Kolaborasi antara industri penerbangan, pengelola bandara, ilmuwan dan praktisi menjadi kunci untuk mengembangkan strategi dan praktik terbaik yang efektif, di mana keselamatan manusia dan burung sama-sama diutamakan. Harmoni ini tidak hanya melindungi nyawa tetapi juga menjaga keseimbangan alam yang menjadi bagian dari kehidupan kita.***

Oleh: Achmad Ridha Junaid, Pegiat Konservasi Burung Indonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau Whatsapp Channel

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================