BOGORTODAY.COM – Peristiwa seorang ibu muda berinisial I (19) yang melahirkan di kolong Jembatan Wika, Sungai Cigede, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengungkap realitas pelik permasalahan sosial di tengah masyarakat.
Kejadian yang berlangsung pada Jumat (10/1/2025) ini menarik perhatian publik dan memicu berbagai pertanyaan tentang kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat rentan.
Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor bergerak cepat menindaklanjuti kasus ini.
Kepala Dinsos Kabupaten Bogor, Farid Ma’ruf, mengungkapkan bahwa hasil asesmen menunjukkan I berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Sementara itu, mertuanya berdomisili di Brebes.
Fakta ini memunculkan tanda tanya besar terkait alasan I berada di Bogor dan bagaimana ia bisa terjerumus dalam kondisi yang memprihatinkan.
“Setelah kami assesmen, identitasnya terdeteksi memiliki KTP Tegal, namun mertuanya tinggal di Brebes,” jelas Farid saat ditemui, Senin (13/1/2025).
Dinsos kemudian berkoordinasi dengan Dinas Sosial Brebes untuk memfasilitasi pemulangan I. Proses tersebut berjalan lancar, dan I dijemput keluarganya pada hari yang sama saat ia melahirkan. Kini, ia telah kembali ke Brebes dan berada di bawah pengawasan keluarga.
Namun, di balik upaya pemulangan itu, terdapat pertanyaan mendalam yang belum terjawab.
Apa yang mendorong I untuk datang ke Bogor dan bertahan hidup di tempat yang tidak layak? Farid mengakui, hingga kini pihaknya belum mengetahui alasan pasti keberadaan I di Bogor.
“Terlepas dari tujuannya di Bogor, ini masalah sosial yang harus kami tangani dan sudah kami selesaikan,” ujar Farid.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa permasalahan sosial seperti ini tidak hanya soal penanganan sementara, tetapi juga soal pencegahan dan penanganan yang lebih mendalam.
Fenomena Tunawisma dan Perempuan Rentan di Perkotaan
Kasus I memperlihatkan bagaimana perempuan muda, terutama yang berada dalam kondisi ekonomi sulit, menjadi kelompok rentan di tengah kerasnya kehidupan perkotaan.
Tidak jarang, mereka terpaksa hidup di jalanan karena berbagai faktor, seperti keterbatasan ekonomi, konflik keluarga, atau minimnya akses terhadap layanan sosial.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















