
BBOGORTODAY.COM– Rencana Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menghadirkan layanan bus rute Cibinong–Puncak pada Februari 2025 mendatang menjadi sorotan publik.
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, Ahmad Fathoni, menyambut baik rencana tersebut dan mendorong agar bus yang dioperasikan memiliki desain yang ikonik.
Ia menilai, upaya ini bisa menjadi langkah strategis untuk mengurai kemacetan di kawasan Puncak yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
“Saya rasa bagus, apalagi kalau busnya dibuat ikonik dan tampilannya menarik. Itu bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk beralih ke transportasi publik,” ujar Fathoni saat ditemui, Selasa (14/1/2025).
Menurutnya, desain bus yang menarik akan menumbuhkan minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum. Fathoni mencontohkan bus wisata di Bandung yang memiliki dek terbuka di lantai dua. Konsep tersebut dinilai berhasil menciptakan pengalaman baru bagi penumpang dan berkontribusi pada pengurangan volume kendaraan pribadi di jalan raya.
“Seperti di Bandung, mereka punya bus yang bagian atasnya bisa dipakai untuk bersantai. Itu salah satu contoh bagaimana transportasi publik bisa dibuat lebih menarik,” tambahnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan besar, apakah kehadiran bus ini mampu menjadi solusi jangka panjang untuk kemacetan di Puncak? Fathoni menyadari bahwa inovasi ini perlu didukung dengan infrastruktur yang memadai.
Dengan demikian, ia mengusulkan agar bus ini memiliki jalur khusus, mirip dengan konsep busway di Jakarta, sehingga perjalanan tidak terhambat oleh kemacetan.
“Kalau bus ini punya jalur sendiri seperti busway, kemacetan bisa diurai. Itu yang perlu dipikirkan untuk jangka panjang,” jelasnya.
Meski mendukung gagasan tersebut, Ahmad Fathoni mengakui bahwa efektivitas program ini dalam mengurangi kemacetan belum dapat dipastikan. Ia menekankan pentingnya pengkajian lebih lanjut terkait jenis bus dan fasilitas pendukung lainnya agar program ini tidak sekadar menjadi wacana.
“Secara inisiatif sudah bagus, tapi nanti harus diatur juga jenis busnya seperti apa,” tutupnya.
Tantangan Implementasi
Di sisi lain, rencana ini menimbulkan sejumlah tantangan. Infrastruktur di kawasan Puncak belum sepenuhnya mendukung keberadaan jalur khusus bus.
Lahan yang terbatas dan kontur jalan yang menanjak menjadi persoalan tersendiri. Selain itu, perubahan perilaku masyarakat dalam beralih ke transportasi publik juga bukan hal yang mudah.
Antara Harapan dan Kenyataan
Kemacetan di kawasan Puncak bukan persoalan baru. Setiap akhir pekan dan musim liburan, jalur ini selalu dipadati kendaraan, terutama wisatawan dari Jabodetabek.
Hadirnya bus ikonik diharapkan mampu menjadi alternatif transportasi yang diminati masyarakat. Namun, tanpa perencanaan matang dan dukungan infrastruktur yang memadai, upaya ini bisa jadi hanya menjadi program sesaat tanpa dampak berarti.
Kini, publik menantikan bagaimana Kemenhub merealisasikan gagasan ini. Akankah bus ikonik tersebut benar-benar menjadi solusi kemacetan di Puncak atau hanya sekadar inovasi. ***
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















