Legenda dan Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek

Tahun Baru Imlek

BOGORTODAY.COM Tahun Baru Imlek adalah salah satu perayaan terbesar dan paling penting bagi masyarakat etnis China di seluruh dunia.

Setiap tahun, tanggal 1 bulan pertama dalam kalender lunar, perayaan ini dipenuhi dengan berbagai tradisi dan ritual, seperti menyalakan lampion, memberikan angpao, hingga menempelkan kaligrafi di pintu rumah.

Namun, di balik segala kemeriahan itu, ada beberapa legenda yang menjadi asal-usul dari berbagai tradisi yang ada. Berikut adalah beberapa legenda yang sering diceritakan turun-temurun terkait perayaan Tahun Baru Imlek.

  1. Kisah Monster Nian dalam Asal-usul Imlek

Tahun Baru Imlek dalam bahasa China disebut Guo Nian (过年), yang memiliki arti ‘mengalahkan Nian’. Nian adalah monster berkepala panjang, bertanduk tajam, dan tubuhnya besar.

Konon, Nian hidup di laut dan hanya muncul setiap malam tahun baru untuk memangsa manusia dan ternak di desa sekitar. Warga desa yang ketakutan biasanya mengungsi untuk menghindari serangan monster ini.

Suatu hari, seorang pria tua berambut putih datang ke desa pada malam tahun baru. Meskipun takut akan monster Nian, pria tua itu tidak melarikan diri. Sebaliknya, dia berusaha mengusir monster Nian dengan cara menempelkan kertas merah di pintu rumah, membakar bambu, dan mengeluarkan suara keras mirip dengan petasan.

Keajaiban terjadi ketika penduduk desa kembali setelah bersembunyi, dan mereka mendapati desa mereka tidak rusak sedikit pun. Mereka pun mulai meniru apa yang dilakukan pria tua itu, dan tradisi tersebut diteruskan hingga kini, yaitu dengan menempelkan dekorasi merah dan menyalakan petasan.

  1. Legenda Lampion Merah dan Desa yang Dibakar

Legenda lain yang terkait dengan perayaan Imlek adalah asal-usul festival lampion. Kisah ini bermula pada masa Kaisar Giok, yang sangat marah setelah burung bangau kesayangannya dibunuh oleh penduduk desa. Kaisar tersebut merencanakan untuk membakar desa pada hari ke-15 bulan pertama sebagai hukuman.

BACA JUGA :  Allo Bank Festival 2026 Siap Guncang Indonesia Arena, CORTIS Debut Perdana di Indonesia

Namun, putri Kaisar Giok merasa kasihan kepada penduduk desa dan memperingatkan mereka akan rencana sang ayah. Penduduk desa, dengan kecerdikan mereka, memutuskan untuk mengelabui sang Kaisar dengan menggantungkan lampion merah dan menyalakan petasan.

Hal ini membuat desa terlihat seperti terbakar dari kejauhan, sehingga Kaisar Giok mengira bahwa desa tersebut sudah dihancurkan dan membatalkan rencananya.

Seiring berjalannya waktu, festival lampion berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek, khususnya pada malam ke-15, yang dikenal sebagai Festival Lampion. Selain itu, ada juga versi lain yang mengaitkan festival lampion dengan masa Kaisar Ming dari Dinasti Han, yang memperkenalkan kebiasaan menyalakan lentera sebagai bagian dari perayaan agama Buddha.

  1. Asal-usul Berbagi Amplop Merah

Tradisi memberikan amplop merah atau angpao juga merupakan bagian penting dari perayaan Imlek. Amplop merah ini berisi uang dan diberikan oleh orang dewasa kepada anak-anak atau orang yang belum menikah.

Cerita asal-usul amplop merah ini berkaitan dengan legenda tentang Setan Sui, yang konon suka menakut-nakuti anak-anak saat mereka tidur.

Setan Sui dapat membuat anak-anak menangis dan mengalami demam, bahkan menyebabkan gangguan mental. Untuk mencegah gangguan ini, orang tua memberikan koin yang dibungkus dengan kertas merah, yang dipercaya dapat mengusir Setan Sui.

Saat Setan Sui mendekat, koin tersebut memancarkan cahaya yang sangat terang sehingga Setan Sui takut dan tidak dapat menyentuh anak-anak. Sejak saat itu, amplop merah mulai diberikan kepada anak-anak selama perayaan Tahun Baru Imlek, dengan harapan dapat membawa keberuntungan dan melindungi mereka dari roh-roh jahat.

  1. Tradisi Menempel Kaligrafi
BACA JUGA :  Huawei MatePad Mini Resmi Hadir di Indonesia, Tablet Ringkas Berfitur Premium Siap Tantang iPad Mini

Menempelkan kaligrafi di pintu atau dinding rumah juga menjadi tradisi yang sangat khas saat Imlek. Tradisi ini bermula lebih dari seribu tahun yang lalu, ketika orang-orang menggantungkan taofu (桃符), yaitu potongan kayu persik yang ditulis dengan nama dua penjaga dunia hantu, yaitu Shentu dan Yulei.

Menurut legenda, dengan menggantungkan potongan kayu persik ini, roh-roh jahat akan diusir dan tidak dapat masuk ke dalam rumah.

Pada masa Dinasti Song (960-1279), orang mulai mengganti kayu persik dengan kertas merah yang lebih mudah didapatkan dan dianggap membawa keberuntungan. Kaligrafi yang ditulis di atas kertas merah ini biasanya berisi doa atau harapan baik, seperti keberuntungan, kebahagiaan, dan panjang umur.

Sejak saat itu, menempelkan kaligrafi menjadi tradisi yang tidak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek.

Tahun Baru Imlek bukan hanya sekadar perayaan untuk menyambut tahun baru, tetapi juga sarat dengan berbagai tradisi yang penuh makna.

Legenda-legenda yang menyertainya, seperti kisah tentang monster Nian, lampion merah, amplop merah, dan kaligrafi, memberikan warna dan memperkaya pengalaman budaya Imlek.

Dengan memahami legenda-legenda ini, kita dapat lebih menghargai dan merayakan Tahun Baru Imlek dengan penuh rasa syukur dan harapan untuk tahun yang lebih baik.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================