
BOGORTODAY.COM – Candi Borobudur, salah satu situs warisan dunia yang paling terkenal, dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno, tepatnya di bawah kekuasaan Wangsa Syailendra.
Pembangunan candi megah ini tak bisa dilepaskan dari sosok Raja Samaratungga, yang merupakan pelopor dibangunnya candi tersebut.
Meskipun namanya tidak sepopuler tokoh-tokoh besar lainnya seperti Prabu Siliwangi, Hayam Wuruk, atau Gajah Mada, warisan yang ditinggalkan oleh Samaratungga hingga kini mampu membuat takjub banyak orang.
Nama Raja Samaratungga tercatat dalam Prasasti Kayumwungan, yang dikeluarkan oleh Rakai Patapan Mpu Palar. Prasasti ini menggambarkan peran Samaratungga dalam pembangunan Candi Borobudur, yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.
Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra ini dikenal sebagai seorang ahli dalam membangun candi di kawasan pegunungan. Hal ini mungkin disebabkan oleh kebiasaan membangun tempat-tempat suci di daerah tinggi atau perbukitan, yang menjadi ciri khas karya-karya dinasti ini.
Samaratungga sendiri dikenal sebagai seorang raja yang memiliki kekuatan dan kesaktian yang luar biasa. Pada masa pemerintahannya, ia berhasil membangun sebuah monumen besar yang terletak di utara Yogyakarta, yang kini kita kenal sebagai Candi Borobudur.
Candi ini dibangun di atas sebuah bukit yang telah diratakan dan dibentuk menjadi serangkaian teras, dengan lantai dan dinding penahannya terbuat dari batu.
Menariknya, puncak bukit yang telah diratakan sengaja dibuat agar menyerupai atap rata sebuah bangunan besar, di mana di pusatnya berdiri sebuah stupa utama yang kemungkinan berisi patung Buddha.
Di sekitar stupa utama, terdapat stupa-stupa kecil berhias yang juga berisi patung-patung Dhyani-Buddha, sementara dinding-dinding teras dihiasi dengan pahatan-pahatan yang menggambarkan ajaran-ajaran Buddha.
Samaratungga adalah anak dari Raja Samaragriwa, yang memerintah Medang pada tahun 800-812 Masehi. Menurut sejarawan Slamet Muljana, Prasasti Pongar yang dikeluarkan pada tahun 802 Masehi menyebutkan bahwa Kamboja berhasil melepaskan diri dari penjajahan Jawa.
Kejadian ini mendorong Samaragriwa untuk membagi wilayah kekuasaannya antara kedua putranya, yakni Samaratungga dan Balaputradewa. Samaratungga mendapat wilayah di Jawa (Medang), sementara Balaputradewa mendapat wilayah di Sumatera.
Sebelum menjadi raja di Medang, Samaratungga menjabat sebagai kepala daerah Garung dengan gelar Rakryan I Garung. Ketika ia naik tahta, ia bergelar Sri Maharaja Samaratungga.
Selama masa pemerintahannya, Samaratungga melaksanakan berbagai pembangunan penting, termasuk menikahkan putrinya, Pramodawardhani, dengan Mpu Manuku dari Wangsa Sanjaya. Pernikahan ini tercatat dalam Prasasti Munduan yang dikeluarkan pada tahun 807 Masehi.
Selain Candi Borobudur, Samaratungga juga dikenal membangun Candi Bhumisambhara, yang merupakan nama lain dari Candi Jinalaya.
Pembangunan candi ini dipercayakan kepada arsitek Gunadharma, dengan bantuan Kumarabacya dari Gandhadwipa (Bangalore) dan Visvawarman, seorang ahli ajaran Buddha Tantra Vajrayana dari Kashmir, India.
Kisah pendirian Candi Borobudur yang megah ini juga diperkuat oleh Prasasti Kulrak yang dikeluarkan pada tahun 784 Masehi.
Pembangunan Candi Borobudur sendiri merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah peradaban Indonesia, yang tidak hanya menunjukkan kecanggihan teknik konstruksi pada masa itu, tetapi juga mencerminkan kedalaman ajaran Buddha yang disampaikan melalui pahatan-pahatan yang menghiasi dinding-dindingnya.
Warisan Raja Samaratungga dan Dinasti Syailendra ini telah menjadi simbol kebesaran budaya dan spiritualitas Indonesia yang terus menginspirasi dunia.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















