
Berdasarkan informasi, rata-rata jumlah food waste per orang di Kabupaten Bogor mencapai 77 kg per tahun, dengan estimasi kerugian ekonomi sebesar Rp2,2 triliun, setara dengan 0,8% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bogor.
Nita menambahkan, dari 2000 hingga 2019, timbulan emisi food loss and waste diperkirakan mencapai 1.702,9 juta ton CO2 ekuivalen, yang berkontribusi sekitar 7,29% terhadap emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia.
Sementara itu, Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional, Nita Yulianis memaparkan, pada aspek ketahanan pangan, sekitar 29 kg makanan yang masih layak konsumsi per kapita per tahun terbuang sia-sia.
“Ini bisa menghilangkan kesempatan seseorang untuk memenuhi kecukupan energi dan 21 zat gizi selama 7 hari,” katanya.
Menurutnya, berdasarkan data dari United Nations Environment Programme, secara global, setiap orang menghasilkan rata-rata 74 kg food waste dalam setahun, dengan 26% berasal dari institusi jasa makanan dan 13% dari sektor retail.
Berdasarkan data Bappenas, salah satu penyebab utama food waste di sektor Hotel, Restoran, dan Katering (Horeka) adalah kurangnya edukasi bagi pekerja pangan dan konsumen mengenai pentingnya penanganan masalah ini.
“Acara ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk membangun gerakan bersama dalam mengurangi pemborosan pangan, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sisa pangan yang lebih efisien dan berdampak positif bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan,” imbuhnya. (* / Gistin Iliyyin)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















