
“Orang tua support terus. Semua sama-sama hancur, tapi caranya saja gimana kita nyembuhinnya. Tahun kemarin tuh karena sibuk BAP, penyidikan, belum terlalu berasa, tapi tahun ini baru berasa banget, lebih berat sih,” ungkap Tamara dengan mata berkaca-kaca.
Meski perasaan duka mendalam terus menghampiri, Tamara berusaha menjalani hari-hari dengan berdoa untuk Dante.
Ia mengungkapkan bahwa ia sering bermimpi tentang anaknya, meski hanya bisa berkunjung ke makam sebagai bentuk kerinduan.
“Mimpi pasti ada sih sesekali. Lepas kerinduan ya kita hanya bisa berdoa ya, paling ke makam, bobo sama selimutnya,” ujarnya, seraya menyatakan bahwa ia akan terus mengunjungi makam Dante.
Tamara Tyasmara kini menjalani hidupnya dengan penuh kenangan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Meski rasa dendamnya belum sirna, ia berharap waktu dapat membantu meredakan rasa sakitnya seiring berjalannya waktu.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















