
Para petugas bantuan dan masyarakat setempat masih bergulat dengan kerusakan parah di seluruh kota yang terdampak.
Di tengah bencana yang menimpa negara tersebut, kepala junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing, baru saja kembali dari perjalanan luar negeri ke Bangkok, Thailand, di mana ia menghadiri pertemuan puncak regional.
Kepulangannya ini menimbulkan kontroversi, terutama di kalangan para pengunjuk rasa yang memprotes keterlibatan pemimpin militer ini dalam pertemuan internasional, dengan spanduk yang menyebutnya sebagai “pembunuh”. Kelompok anti-junta mengecam keras kehadiran Hlaing di acara tersebut.
Myanmar telah dikuasai oleh militer sejak kudeta pada 2021, yang menggulingkan pemerintah sipil yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.
Kudeta tersebut memicu konflik berdarah yang melibatkan banyak pihak dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Kekacauan politik ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan, termasuk dalam penanganan bencana alam seperti gempa bumi yang baru-baru ini terjadi.
Bantuan internasional dan upaya pemulihan masih terus dilakukan untuk membantu korban dan memulihkan infrastruktur yang hancur. Namun, tantangan besar tetap ada, mengingat ketegangan politik dan kondisi perang saudara yang belum berakhir di Myanmar.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















