BOGORTODAY.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret 2025 telah menyebabkan kerusakan besar dan memakan banyak korban jiwa.
Menurut laporan media pemerintah Myanmar pada Sabtu (5/4/2025), jumlah korban tewas terus meningkat, dengan lebih dari 3.300 orang dipastikan meninggal dunia akibat bencana alam tersebut.
Gempa yang terjadi di wilayah tengah Myanmar itu telah meratakan bangunan dan meluluhlantakkan infrastruktur.
Hingga saat ini, laporan resmi menyebutkan bahwa sebanyak 3.354 orang tewas dan lebih dari 4.500 orang terluka. Selain itu, sekitar 220 orang masih dinyatakan hilang, dan banyak korban selamat yang kini terpaksa mengungsi karena rumah mereka hancur lebur akibat gempa.
Kondisi ini semakin diperburuk oleh ketidakmampuan sebagian besar masyarakat untuk mendapatkan tempat berlindung yang layak.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa lebih dari 3 juta orang terdampak langsung oleh gempa bumi yang menghancurkan ini.
Kerusakan parah telah memperburuk kondisi negara yang sudah dilanda perang saudara sejak kudeta militer pada 2021. Krisis kemanusiaan yang berlangsung selama empat tahun semakin diperburuk dengan terjadinya bencana alam ini.
Tom Fletcher, pejabat bantuan utama PBB, yang baru-baru ini mengunjungi kota Mandalay dekat episentrum gempa, menyatakan bahwa kehancuran yang terjadi di kota tersebut sangat mengejutkan.
“Dunia harus bersatu di belakang rakyat Myanmar,” tulis Fletcher dalam sebuah posting di platform X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter).
Para petugas bantuan dan masyarakat setempat masih bergulat dengan kerusakan parah di seluruh kota yang terdampak.
Di tengah bencana yang menimpa negara tersebut, kepala junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing, baru saja kembali dari perjalanan luar negeri ke Bangkok, Thailand, di mana ia menghadiri pertemuan puncak regional.
Kepulangannya ini menimbulkan kontroversi, terutama di kalangan para pengunjuk rasa yang memprotes keterlibatan pemimpin militer ini dalam pertemuan internasional, dengan spanduk yang menyebutnya sebagai “pembunuh”. Kelompok anti-junta mengecam keras kehadiran Hlaing di acara tersebut.
Myanmar telah dikuasai oleh militer sejak kudeta pada 2021, yang menggulingkan pemerintah sipil yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.
Kudeta tersebut memicu konflik berdarah yang melibatkan banyak pihak dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Kekacauan politik ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan, termasuk dalam penanganan bencana alam seperti gempa bumi yang baru-baru ini terjadi.
Bantuan internasional dan upaya pemulihan masih terus dilakukan untuk membantu korban dan memulihkan infrastruktur yang hancur. Namun, tantangan besar tetap ada, mengingat ketegangan politik dan kondisi perang saudara yang belum berakhir di Myanmar.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















