
“Di rumah juga nggak ada meja dan kursi. Jadi tamu diingatkan untuk hati-hati. Tapi setelah selesai, ternyata tidak terjadi apa-apa,” ujar Celia, putri Muliartha yang menjalani prosesi metatah.
Respons masyarakat pun beragam. Ada yang menyangka Muliartha menggunakan jasa katering mahal, atau merasa repot dengan persiapannya. Tapi tak sedikit pula yang memberi apresiasi tinggi, bahkan memintanya untuk mengonsep acara serupa di daerah lain, seperti Ubud.
Muliartha sendiri merespons berbagai komentar itu dengan santai. Menurutnya, konsep tanpa plastik justru memberi manfaat besar, seperti mudahnya mengelola sampah, hemat ruang dan waktu, serta bisa disesuaikan dengan anggaran.
“Malah lebih ringan rasanya. Hasil akhirnya, sampah nggak ada, kecuali sampah organik saja. Tapi itu langsung kami kelola di teba modern milik kami sendiri,” jelasnya.
Upacara metatah ini menjadi bukti bahwa tradisi dan kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan berdampingan.
Apa yang dilakukan Muliartha menjadi inspirasi bahwa perubahan ke arah yang lebih baik bisa dimulai dari rumah, dari momen-momen penting dalam kehidupan, tanpa meninggalkan kearifan lokal.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















