
Baginya, arak-arakan ini adalah perjalanan batin, di mana generasi hari ini diajak menyentuh kembali jejak sejarah yang selama ini hanya hidup dalam buku dan cerita.
Pelestarian Budaya di Tengah Zaman yang Berubah
Lebih dari sekadar seremoni, penyambutan Mahkota Binokasih menjadi bentuk nyata pelestarian budaya yang mulai tergerus oleh zaman. Rudy menekankan pentingnya merawat warisan leluhur, agar nilai-nilai sejarah dan budaya tidak hilang ditelan modernitas.
“Tujuannya hanya satu, kita sama-sama mengenang dan melestarikan sejarah budaya yang ada di Kabupaten Bogor, yaitu tanah Pajajaran,” ujarnya.
Yang menarik, kirab sakral ini bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Momen ini dianggap sebagai kesempatan sempurna untuk menggaungkan kembali kebanggaan terhadap tradisi, budaya, dan peran perempuan dalam sejarah bangsa.
Sebagai bentuk penghormatan, seluruh ASN Pemkab Bogor akan mengenakan pakaian adat Sunda pada hari itu.
“Dresscode-nya kebetulan tanggal 21 Hari Kartini. Maka pada saat Hari Kartini, semua ASN, semua pemerintah Kabupaten Bogor, kita pakai baju adat Sunda bersama-sama,” tambah Rudy.
Mahkota Binokasih bukan hanya simbol sejarah, tapi juga pengingat bahwa di tengah derasnya arus modernitas, masih ada ruang bagi kita untuk kembali pada akar budaya dan menghormati warisan leluhur.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















