Kirab Mahkota Binokasih di Bogor: Simbol Kebangkitan Budaya Sunda

BOGORTODAY.COM – Perhelatan Kirab Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake yang digelar di Kabupaten Bogor pada Senin (21/4), mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, terutama para budayawan.

Acara ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan nilai-nilai budaya Sunda yang selama ini tersembunyi di balik modernitas.

Mahkota sakral peninggalan Keraton Sumedang Larang itu untuk pertama kalinya kembali diperlihatkan ke publik setelah ratusan tahun dijaga dalam keheningan istana.

Dalam kirab yang penuh khidmat, mahkota dibawa dari Lapangan Muara Beres menuju Pusat Pemerintahan Kabupaten Bogor di Cibinong. Mahkota Binokasih dipercaya sebagai simbol kasih, asih, dan asuh—tiga nilai luhur yang menjadi fondasi peradaban Sunda.

Budayawan senior Bogor, Ediana Hadi Nata, menyambut positif penyelenggaraan kirab tersebut. Ia menilai kehadiran mahkota bukan sekadar seremoni, melainkan tanda dimulainya era baru dalam pelestarian budaya lokal.

“Budaya dan agama itu seperti dua kaki, harus seiring sejalan. Tidak bisa hanya satu yang dominan,” ujar Ediana, yang juga dikenal sebagai ahli tempa kujang dan pakar metalurgi.

Ediana mengaku kembali aktif di dunia kebudayaan karena melihat adanya harapan baru dari generasi saat ini. Menurutnya, perhatian yang mulai tumbuh terhadap warisan budaya adalah indikasi kebangkitan yang nyata.

BACA JUGA :  Pubertas Dini pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Kapan Harus Waspada

“Ini bukan cuma keren-kerenan, tapi tanda kebangkitan kearifan lokal. Budaya itu budi dan daya. Harus edukatif, menyentuh generasi muda, bukan untuk segelintir orang saja,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih dibuat pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja sebagai simbol pemersatu. Dalam pandangannya, Sunda bukan hanya etnis atau suku, melainkan sebuah ajaran hidup universal.

“Perilaku Sunda itu ramah tamah. Binokasih adalah simbol kasih yang membina, bukan berperang. Filosofinya asah, asih, asuh—pemimpin harus turun ke bawah, edukasi rakyat secara langsung,” ucapnya.

Ediana juga menyayangkan anggapan yang menyebut leluhur Sunda sebagai masyarakat primitif.

“Peradaban Sunda sudah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Mereka bukan primitif, justru membangun etika dan adab lebih awal dari banyak bangsa lain. Sudah saatnya kita tata ulang budaya, hidupkan lagi silaturahmi dan rasa saling menghargai,” tuturnya.

BACA JUGA :  Wabup Bogor Sebut WTP Dua Kali Berturut-turut Bukti Akuntabilitas Pemkab

Sementara itu, Radya Anom Keraton Sumedang Larang, selaku perwakilan resmi kerajaan, menegaskan bahwa kirab ini merupakan bagian dari upaya edukasi dan pelestarian sejarah Sunda.

“Mahkota ini bagi kami adalah nilai luhur yang mencerminkan peradaban. Sejarah Sunda di Bogor tidak boleh terputus. Kehadiran kami untuk memberikan khasanah budaya yang berkesinambungan,” ujarnya.

Radya Anom juga mengungkapkan bahwa Bupati Bogor saat ini, Rudy Susmanto, merupakan bagian dari trah Sumedang Larang, sehingga dipercaya mampu membawa nilai-nilai tersebut ke dalam kepemimpinannya.

“Alhamdulillah, Kabupaten Bogor hari ini dipimpin oleh Bupati yang berasal dari trah Sumedang Larang. Maka dengan kesempatan ini, kami menitipkan spirit keagungan mahkota yang dikasihi sayang untuk digunakan dalam kepemimpinan beliau,” tutupnya.

Kirab Mahkota Binokasih bukan hanya menjadi tontonan budaya, melainkan juga ajakan untuk kembali mengenali jati diri. Di tengah derasnya arus globalisasi, kegiatan seperti ini menjadi napas segar bagi pelestarian nilai-nilai luhur Nusantara.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================